Page 79 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 7 MEI 2021
P. 79

SERIKAT BURUH MINTA PEMERINTAH LEBIH TEGAS SOAL PEMBAYARAN THR

              LENGKONG,  --  Sepekan  menjelang  Hari  Raya  Idulfitri,  serikat  buruh  Jabar  mengingatkan
              pemerintah dan perusahaan untuk memenuhi kewajiban membayar Tunjangan Hari Raya (THR).

              Sekitar 700 anggota SP TSK SPSI (Serikat Pekerja Tekstil Sandang dan Kulit Serikat Pekerja
              Seluruh Indonesia) menggelar aksi di Jalan Soekarno-Hatta Bandung pada Kamis, 6 Mei 2021,
              tepatnya di depan PT Masterindo Jaya Abadi.

              Perusahaan tersebut diketahui telah mem-PHK sebanyak 1.142 pegawai anggota serikat pada
              tanggal 28 April 2021. Meskipun tanggal tersebut belum memasuki sepekan sebelum Idulfitri,
              perusahaan yang bergerak di bidang tekstil itu tetap wajib membayar THR kepada pegawai yang
              di-PHK sesuai dengan Permenaker Nomor 16 Tahun 2016.

              Roy  Jinto  Ferianto,  ketua  DPD  KSPSI  (Dewan  Pengurus  Daerah  Konfederasi  Serikat  Pekerja
              Seluruh Indonesia) Jabar, turut menyampaikan perhatiannya kepada kasus yang dialami ribuan
              anggota serikat buruh Masterindo Jaya Abadi yang belum memperoleh haknya.

              Menurut penelusuran KSPSI, sebenarnya PT Masterindo Jaya Abadi masih melakukan operasional
              di atas tanggal 29 April 2021 ketika perusahaan itu menyatakan telah tutup usaha. Ada sekitar
              200 pekerja yang masih beroperasi dan mereka pun sudah memperoleh THR.

              "Faktanya, setelah menyatakan penutupan operasional tersebut, perusahaan tidak tutup. Ada
              200 karyawan yang masih bekerja sampai saat ini dan THR-nya sudah dibayar. Justru karyawan
              yang menggugat inilah yang nggak boleh masuk ke pabrik dan tidak boleh bekerja," ujar Roy
              melalui panggilan telepon, Kamis, 6 Mei 2021.

              Ketidakbenaran soal penutupan perusahaan menjadi alasan kuat yang memenangkan para buruh
              yang menggugat di PHI (Pengadilan Hubungan Industrial) pada 30 Desember 2020. Akan tetapi,
              pihak perusahaan mengajukan banding yang sudah naik ke tahap kasasi.

              Perusahaan  pun  menolak  untuk  membayar  THR  dengan  alasan  proses  kasasi  yang  belum
              rampung. Tidak hanya THR, pesangon yang wajib dibayarkan pasca-PHK pun belum diterima
              oleh buruh.

              Sementara itu, Permenaker Nomor 6 Tahun 2016 menyebutkan, "Bagi seorang karyawan tetap
              (pekerja  yang  dipekerjakan  melalui  Perjanjian  Kerja  Waktu  Tidak  Tertentu)  dan  terjadi
              Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) terhitung sejak waktu 30 hari sebelum Hari Raya Keagamaan,
              maka ia tetap berhak THR".

              Dengan kata lain, jika hubungan pekerja berakhir dalam jangka waktu 30 hari sebelum Hari Raya
              Keagamaan, maka pekerja yang bersangkutan tetap berhak atas THR. Namun sebaliknya, jika
              hubungan kerjanya berakhir lebih lama dari 30 hari, maka hak atas THR dimaksud gugur.
              Para buruh yang di-PHK sempat bekerja selama 17 hari pada bulan Ramadan. Artinya, mereka
              dikeluarkan daei perusahaan 13 hari sebelum perayaan Idulfitri dan masih berhak memperoleh
              THR.

              "Posisi teman-teman Masterindo sudah dua minggu kerja di bulan puasa, kemudian dilarang
              masuk  kerja  dan  PHK.  Artinya,  secara  otomatis  ada  hak  THR  yang  muncul  dan  kewajiban
              pengusaha untuk membayar itu," kata Roy.

              Roy selaku perwakilan KSPSI pun menyampaikan, harus ada ketegasan dari pemerintah terkait
              dengan permasalahan THR tersebut. Pasalnya, sudah ada aturan yang jelas-jelas mengatur soal
              itu.



                                                           78
   74   75   76   77   78   79   80   81   82   83   84