Page 598 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 2 NOVEMBER 2020
P. 598

BURUH MENDESAK, KENAIKAN UPAH MINIMUM HARUS TETAP ADA

              Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI), Said Iqbal, mendesak adanya kenaikan
              upah minimum (UMP) 2021 sebesar 8 persen. Jika kenaikan 8 persen berat, Dewan Pengupahan
              dan pemerintah daerah bisa berdiskusi berapa kenaikan upah minimum yang dirasa tepat untuk
              para buruh.

              "Saat ini masih banyak perusahan yang beroperasi seperti biasa. Jadi jangan dipukul rata kalau
              semua perusahaan tidak mampu membayar kenaikan upah minimum. Bahkan kalau pun ada
              yang  tidak  mampu,  Undang-Undang  (UU)  sudah  memberikan  ruang  untuk  melakukan
              penangguhan upah minimum," katanya dalam konferensi pers secara virtual, Jumat (30/10).

              KSPI mendapat laporan dari anggota Dewan Pengupahan Nasional serta unsur serikat buruh
              kalau tidak ada kesepakatan apapun dari Dewan Pengupahan Nasional yang menyatakan tidak
              ada  kenaikan  upah  minimum  di  tahun  2021.  Bahkan  di  dalam  forum yang  lebih  besar  yang
              dihadiri Dewan Pengupahan Nasional, Provinsi, dan Kabupaten/Kota, tidak ada keputusan yang
              menyatakan upah minimum tahun 2021 tidak naik.

              "Jadi,  pemerintah  menggunakan  dasar  apa  mengeluarkan  surat  edaran  yang  meminta  agar
              Gubernur  tidak  menaikkan  upah  minimum?  Patut  diduga  Menaker  berbohong  terhadap
              argumentasi dalam mengeluarkan surat edaran tersebut," kata dia.
              Ia menambahkan ini bukan kali pertama Indonesia mengalami resesi ekonomi yang dikaitkan
              dengan kenaikan upah minimum. Tahun 1998 misalnya, pertumbuhan ekonomi Indonesia minus
              di kisaran 17,6 persen. Sedangkan angka inflasi mendekati 78 persen.

              Serikat  buruh  yang  ada  saat  itu,  bersama pemerintah  dan  organisasi  pengusaha  bersepakat
              untuk tidak menaikkan upah minimum di tengah resesi. Tetapi kemudian terjadi perlawanan
              yang keras dan masif dari buruh untuk menolak keputusan upah tidak  naik tersebut. Tetapi
              kesepakatan itu tidak mewakili aspirasi yang berkembang di tingkat pabrik.
              "Sehingga  terjadilah  aksi  besar-besaran  yang  meluas  di  semua  daerah.  Presiden  Habibie
              kemudian mengambil keputusan menaikkan upah minimum sebesar kurang lebih 16 persen,"
              kata dia.

              Ia  menegaskan  dengan  analogi  yang  sama,  pertumbuhan  ekonomi  dan  inflasi  saat  ini  lebih
              rendah dibandingkan tahun 1998. Pertumbuhan ekonomi tahun ini diperkirakan minus 8 persen
              dan inflasi 3 persen.

              KSPI meminta agar para Gubernur mengabaikan surat edaran tersebut. Kalau tidak ada kenaikan
              upah minimum bisa dipastikan aksi-aksi buruh akan membesar dan semakin menguat. Apalagi
              hal ini terjadi di tengah penolakan RUU Omnibus Law Cipta Kerja.

              "Bisa saja akhirnya kaum buruh mengambil keputusan mogok kerja nasional. Berbeda dengan
              mogok nasional yang dilakukan pada tanggal 6 sampai 8 Oktober lalu, kali ini bentuknya adalah
              mogok kerja nasional yang dilakukan oleh serikat buruh di tingkat pabrik," kata dia.

              Ia menambahkan persoalan upah adalah persoalan di tingkat perusahaan atau pabrik. Mereka
              bisa  mengajukan  perundingan  kenaikan  upah  yang  dilakukan  secara  bersamaan  di  masing-
              masing perusahaan dan jika tidak ada jalan lain (deadlock) maka sudah memenuhi persyaratan
              yang  diatur  Undang-Undang  No  13  Tahun  2003  tentang  Ketenagakerjaan  untuk  melakukan
              mogok kerja.

              "Menaker adalah orang yang paling bertanggung jawab kalau terjadi mogok kerja nasional. Setop
              produksi serentak di seluruh Indonesia. Itu boleh dalam Undang-Undang No 13 Tahun 2003.


                                                           597
   593   594   595   596   597   598   599   600   601   602   603