Page 170 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 170

Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3







                                    Ketika Belanda datang ke Nusantara, penduduk negeri ini telah memiliki sistem
              Dalam teks Sejarah    pemerintahan yang mapan dalam bentuk kesultanan atau kerajaan Islam.
              Melayu ditekankan     Sistem pemerintahan kesultanan tentu saja dibangun dengan menjadikan Islam
                bahwa sistem
              pemerintahan harus    sebagai  pedoman  dalam  mengatur  negara.  Meski  sangat  mungkin  terdapat
               dibangun di atas     perbedaan corak pengaturan di tiap-tiap kerajaan, hokum yang diterapkan pada
               fondasi keadilan,    dasarnya diambil dari dasar yang sama, yaitu ajaran Islam. Sebagai misal, dalam
                dan  karena itu
               nilai yang berlaku   teks Sejarah Melayu ditekankan bahwa sistem pemerintahan harus dibangun
              adalah: raja adil raja   di atas fondasi keadilan, dan  karena itu nilai yang berlaku adalah: raja adil
              disembah, raja lalim   raja disembah, raja lalim raja disanggah. Untuk menegakkan keadilan, selain
             raja disanggah. Untuk   raja menjadi  pusat pemelihara  dan penegak keadilan, raja juga  membantuk
             menegakkan keadilan,
              selain raja menjadi   perangkat kelembagaan yang berfungsi menegakkan keadilan, yaitu kadi (qadhi)
               pusat pemelihara     Di tiap kesultanan selalu ada kadi, yaitu orang pandai dalam ilmu agama atau
                 dan penegak        ulama yang ditunjuk raja untuk menjadi “penjaga gawang” keadilan.  Hukum,
              keadilan, raja juga   undang-undang, peraturan dan ketentuan yang dipakai sebagai pedoman
             membantuk perangkat
              kelembagaan yang      dalam menjaga keadilan tidak lain adalah hukum Islam yang secara tradisional
             berfungsi menegakkan   telah dibakukan dalam kitab-kitab fikih.
                keadilan, yaitu
              kadi (qadhi) Di tiap
               kesultanan selalu    Dengan demikian, teori hukum receptio in complexu adalah hasil pengamatan
             ada kadi, yaitu orang   van den Berg terhadap kondisi masyarakat Indonesia ketika itu, di mana Islam
              pandai dalam ilmu     telah lama dipraktekan sebagai  sumber hukum di masyarakat. Hukum Belanda
            agama atau ulama yang   sendiri tidak dapat serta merta diberlakukan di tanah jajahan, karena sistem
              ditunjuk raja untuk
               menjadi “penjaga     dan substansinya sangat berbeda. Oleh karena itu, untuk tidak menimbulkan
              gawang” keadilan.     gejolak di masyarakat anak negeri, Belanda mengambil kebijakan untuk
                                    membiarkan hukum anak negeri, yakni hukum Islam, dijalankan sebagai
                                    mestinya. Demikianlah, kebijakan ini dituangkan dalam konstitusi tahun 1854
                                    (Reggerings Reglement)  pasal  75,  yang  berbunyi  pemerintah  kolonial  harus
                                    membiarkan  penguasa  anak negeri  untuk  menjalankan  hukum  Islam  seperti
                                    biasanya. Hukum, undang-undang, peraturan, adat istiadat yang selama itu
                                    berlaku menjadi hukum material yang dipakai rujukan dalam peradilan anak
                                    negeri sepanjang hukum Islam itu tidak berkontradiksi dengan prinsip-prinsip
                                    keterbukaan (fairness)  dan keadilan.
                                                                       1
                                    Oleh karena itu, institusi dan praktik hukum anak negeri yang Islam itu tetap
                                    diberlakukan selama masa kolonial. Meskipun, dalam praktiknya, sejumlah
                                    perubahan dilakukan untuk menyesuaikan dengan kepentingan kolonial, baik
                                    yang sifatnya substantif maupun  strategis. Tahun 1882, misalnya, lembaga
                                    peradilan Islam diinkorporasi ke dalam adminsitarsi kolonial, diseragamkan
                                    namanya menjadi  priesterra atau Raad  Agama. Dengan inkorporasi ini, para
                                    penghulu dan pegawai agama dijadikan pegawai pemerintah kolonial, meskipun
                                    tanpa gaji.  Akibatnya, para kadi,  penghulu dan semacamnya  menjadi kaki
                                    tangan kolonial dan menjadi ‘juru bicara’ bagi kepentingan mereka.


                                    Perubahan yang paling merugikan lembaga peradilan Islam Raad Agama adalah
                                    peraturan tahun 1937 yang tertuang dalam staatsblad 116. Peraturan pemerintah
                                    ini mencabut otoritas Raad Agama menangani perkara waris penduduk anak





                    154
   165   166   167   168   169   170   171   172   173   174   175