Page 174 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 174

Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3







                                    ke Pasai, dan meminta agar tetap tinggal di Majapahit. Ia mempersilahkan
                                    memilih wilayah mana saja untuk tinggal. Raja Bungsu memilih Ampel Gedang
                                    (sic.)  sebagai  tempat  mukim,  dan  disertai  sejumlah  orang  pengawal.  Raja
                                    Bungsu pun membangun desa di tempat itu. Raja Bungsu mulai berdakwah,
                                    dan Desa Ampel Gedang menjadi desa Muslim dan ramai dikunjungi orang.
                                    Beberapa lama kemudian penduduk desa-desa sekitar Ampel Gedang memeluk
                                    agama Islam. Raja Majapahit  mengetahui kedaan itu tidak melarang, bahkan
                                    mengijinkan aktivitas dakwah itu.

                                    Segera sesudah itu, Raja Bungsu dari Ampel Gedang menjadi terkenal. Ampel
                                    Gedang menjadi tempat suci yang dikunjungi orang-orang dari berbagai
            Ampel Gedang menjadi    penjuru untuk memeluk Islam dan menjadi murid dan pengikut Raja Bungsu.
               tempat suci yang     Demi mendengar kehebatan penguasa Ampel Gedang itu, seorang petinggi
            dikunjungi orang-orang
             dari berbagai penjuru   dari negeri Jipang ingin mengunjunginya. Suatu hari Petinggi Jipang bersama
             untuk memeluk Islam    beberapa pengawalnya berangkat menuju Ampel Gedang dengan perasaan
            dan menjadi murid dan   tinggi hati. Ketika sampai di Ampel dan bertemu Raja Bungsu, Petinggi Jipang
             pengikut Raja Bungsu.   itu terperangah demi melihat wajah raut muka Raja Bungsu yang bersih dan
                                    bersinar. Seketika itu juga Petinggi Jipang berlutut di hadapan Raja Bungsu,
                                    memohon ampun atas prasangka yang menganggap rendah penguasa Ampel
                                    itu. Ia lalu menyembah dan meminta Raja Bungsu mengislamkan dirinya.
                                    Petinggi Jipang memohon kepada Raja Bungsu agar diijinkan tinggal beberapa
                                    hari di Ampel untuk belajar agama Islam kepada Raja Bungsu. Dalam waktu
                                    singkat, konon, Petinggi Jipang itu telah menguasai ilmu-ilmu terpenting
                                    untuk menjalankan agama Islam, seperti cara berwudhu, shalat, puasa dan
                                    hukum Islam. Ia kembali ke Jipang, dan dalam waktu singkat petinggi Jipang
                                    itupun menjadi pemimpin Muslim yang banyak pengikutnya. Ia membangun
                                    hubungan karib dengan Raja Bungsu, membantu menyebarkan dakwah Islam.
                                    Pada suatu saat petinggi Jipang menawarkan putrinya untuk diperisteri Raja
                                    Bungsu. Ia setuju dan menunjuk petinggi Jipang sebagai penghulu, karena
                                    menurut hukum Islam hak untuk menikahkan anak perempuan berada pada
                                    ayahnya. Di kemudian hari petinggi Jipang itu ditetapkan sebagai penghulu di
                                    Ampel, karena ia dipandang telah memiliki pengetahuan dan kapasitas untuk
                                    mengemban tugas sebagai penghulu. Diceritakan pada masa pengulu Jipang
                                    itu Ampel Gedang berkembang pesat menjadi pusat penyiaran Islam dan
                                    masyarakat di sekitarnya menjadi Muslim.


                                    Dari kisah di atas dapat dibuat pernyataan bahwa  lembaga hukum Islam
             Lembaga hukum Islam    akan segera didirikan manakala suatu komunitas Muslim telah terbentuk. Ini
             akan segera didirikan   merupakan keniscayaan, karena implementasi hukum tertentu diperlukan
                manakala suatu      kelembagaan hukum. Dalam kaitannya dengan hukum keluarga, perkawinan
            komunitas Muslim telah   itu dilaksanakan antara laki-laki dan perempuan melalui perjanjian serah terima
                  terbentuk.
                                    (ijab dan kabul) oleh wali dari perempuan dengan calon suami, disaksikan oleh
                                    dua orang saksi. Dalam hukum fikih, posisi wali sangat penting alias mutlak.
                                    Wali adalah ayah dari calon isteri. Jika ayah tidak ada, maka saudara laki-
                                    laki calon isteri. Jika tidak ada, maka saudara laki-laki ayah, atau kakek. Wali
                                    yang terkait dengan hubungan darah disebut wali nasab. Akan tetapi jika wali



                    158
   169   170   171   172   173   174   175   176   177   178   179