Page 175 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 175

Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3







           nasab tidak ditemukan, maka diganti dengan wali hakim. Kedudukan wali
           hakim tidak bisa sembarang orang, melainkan harus penguasa formal yaitu
           sultan atau imam, atau kepala negara. Dalam implementasinya kepala negara
           mendelegasikan wewenangnya (tauliyah) kepada orang yang dipercaya, yaitu
           hakim. Karena itu disebut wali hakim. Dalam keadaan tidak ada wali hakim,
           karena imam tidak ada, sultan juga tidak ada, maka kedudukan itu dapat dipilih
           melalui kesepakatan dari ahl hal wa al’aqd, yaitu orang cerdik pandai (Muslim)
           yang ada. Itulah sebabnya institusi kehakiman merupakan keniscayaan dalam
           setiap masyarakat Muslim.


           Terbentuknya kelembagaan hukum Islam itu tidak saja terjadi di Jawa, tetapi
           di seluruh Nusantara, termasuk di Asia Tenggara. Begitu terbangun suatu
           kekuasaan Islam, kelembagaan hukum syari’ah pun didirikan, di tingkat pusat
           sampai tingkat yang paling bawah. Pejabat hukum syari’ah bertanggungjawab
           terhadap pelaksanaan syari’at Islam dalam kerajaan dan masyarakat, seperti
           puasa, shalat, perkawinan, dan pelayanan agama (misalnya dalam hal kematian,
           upacara-upacara keagamaan, bangunan keagamaan dan sebagainya). Fungsi
           lain yang sangat penting pejabat syari’ah adalah pelaksanaan  qadha atau
           mahkamah. Pejabat hukum syari’ah diangkat oleh raja atau sultan. Oleh karena
           itu pelaksanaan hukum syari’ah pada dasarnya berjalan di bawah kendali
           raja, dan pejabat syari’ah sebagai pelaksananya. Ini juga berarti, pada tahap
           paling awal sejarah kesultanan Islam di Nusantara, negara telah memainkan
           peran  vital  dalam  pelaksanaan  hukum  syari’ah.  Pelaksanaan  hukum  syari’ah
           dijalankan dengan cara damai dan persuasif, tidak radikal dan karena itu tidak
           menimbulkan gejolak sosial.

           Seperti dalam kebanyakan negara-negara Islam dan negera-negara dengan
           penduduk  muslim  di  dunia,  pelaksanaan  hukum  syari’ah  di  Indonesia  yang
           melibatkan negara telah meniscayakan terbentuknya institusi kadi. Kewajiban
           untuk bertahkim dari setiap perselisihan di antara orang Islam menyebabkan
           lahirnya lembaga peradilan itu. Sebelum kadi atau hakim yang secara formal
           diangkat oleh negara, masyarakat muslim telah terbiasa mengadukan perselisihan    Seperti dalam
           di antara sesamanya ke hadapan imam, yakni pemimpin yang ada dalam             kebanyakan negara-
                                                                                            negara Islam dan
           masyarakat Muslim. Setelah terbentuknya kesultanan, pengadilan dijalankan     negera-negara dengan
           oleh kadi. Sudah disebut di atas bahwa dalam ketetntuan hukum syari’ah, hak    penduduk muslim di
           untuk mengadili  ada pada  raja atau imam.  Raja kemudian  mendelegasikan       dunia, pelaksanaan
           wewenang tersebut kepada kadi atau hakim. Prinsip pendelegasian wewenang         hukum syari’ah
           atau tauliyah ini sangat penting dalam syari’ah, sehingga dikatakan tidak syah   di Indonesia yang
                                                                                           melibatkan negara
           bertahkim kepada hakim yang tidak memperoleh tauliyah raja. Dengan demikian     telah meniscayakan
           dapat dikatakan bahwa syari’ah mengharuskan pembentukan lembaga peradilan      terbentuknya institusi
           ini dengan mengangkat kadi atau hakim melalui proses tauliyah. Ini juga berarti   kadi. Kewajiban
           bahwa salah satu pelaksanaan syari’ah menuntut adanya keterlibatan negara.     untuk bertahkim dari
                                                                                          setiap perselisihan di
                                                                                           antara orang Islam
           Kadi biasa disebut pejabat syari’ah dan dibentuk di semua kesultanan (Islam)   menyebabkan lahirnya
           di Nusantara. Pejabat syari’ah dalam praktiknya menjalankan dua fungsi, yakni   lembaga peradilan itu.
           pembinaan pelaksanaan syari’ah pada umumnya  dan  pelaksana mahkamah.



                                                                                                 159
   170   171   172   173   174   175   176   177   178   179   180