Page 180 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 180

Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3







                                    Kebijakan Kolonial Terhadap Lembaga Hukum Islam




                                    Setelah diketahui bahwa orang pribumi memiliki sistem hukum dan peradilannya
                                    sendiri, maka kebijakan Belanda terhadap lembaga peradilan pribumi adalah
                                    membiarkan lembaga ini  berfungsi sebagai lembaga peradilan menurut
                                    kebiasaan penduduk pribumi yang Muslim. Sampai akhir abad ke-19, pandangan
                                    yang dominan di kalangan sarjana maupun administratur Belanda adalah bahwa
                                    hukum Islam merupakan sistem hukum yang ditaati oleh penduduk pribumi.
                                    Walaupun terdapat keragaman praktik yang menujukkan derajat pelaksanaan
                                    syari’ah, semua Muslim di tanah jajahan mengakui bahwa Islam adalah agama
                                    yang luhur. Supremasi Islam ini terlambangkan di daerah-daerah di luar wilayah
                                    kerajaan oleh kekuasaan penghulu yang mempunyai wewenang menangani
                                    perkara sipil maupun pidana. Supremasi itu juga tampak pada hubungan yang
                                    erat antara agama Islam dan negara baik di dunia Melayu (Sumatera) maupun
                                    Jawa.

                                    Hubungan erat antara Pangeran Diponegoro dengan para pemimpin Muslim
                                    sebelum dan pada waktu berlangsung Perang Jawa, merupakan ilustrasi
                                    paling baik untuk hubungan integratif ini. Perang Diponegoro (1825—1830)
              Walaupun terdapat     atau Perang Jawa menurut istilah Belanda, menghadirkan kesadaran baru di
              keragaman praktik     kalangan  mereka.  Menurut  Peter  Carey,  pemberontakan  Diponegoro  tidak
              yang menujukkan       dapat dipisahkan dari eratnya hubungan antara keraton dan pesantren, baik di
             derajat pelaksanaan                                  12
            syari’ah, semua Muslim   Yogyakarta maupun Surakarta.  Kesadaran baru itu adalah bahwa hubungan
               di tanah jajahan     Islam dan kekuasaan dalam struktur kesultanan cukup membahayakan eksistensi
            mengakui bahwa Islam    kolonial. Karena itu, hubungan ini perlu diperhitungkan.
              adalah agama yang
            luhur. Supremasi Islam   Lembaga peradilan agama sebagai pilar pelaksanaan hukum syari’ah Islam tidak
             ini terlambangkan di
             daerah-daerah di luar   luput dari pengaruh sikap baru kolonial tersebut terhadap Islam. Dalam konteks
             wilayah kerajaan oleh   ini kepenghuluan dapat dipandang sebagai simbol dari kesatuan antara dua
             kekuasaan penghulu     kelompok Muslim dan antara agama dan negara. Muslim yang taat ataupun
               yang mempunyai       muslim yang vernacularist sinkretis (abangan) sama-sama membutuhkan kantor
            wewenang menangani      kepenghuluan dalam segala urusan sipil mereka. Demikian pula, kantor ini
             perkara sipil maupun
              pidana. Supremasi     merupakan simbol dari hubungan integratif antara agama dan negara. Dalam
             itu juga tampak pada   posisi yang krusial itu pemerintah kolonial Belanda menaruh perhatian yang
             hubungan yang erat     serius. Pemerintah kolonial menempatkan lembaga pelaksanan hukum syari’at
            antara agama Islam dan   Islam sebagai institusi vital, karena berdasarkan pengalaman, ambisi untuk
             negara baik di dunia   memberlakukan hukum dan peradilan Belanda di negeri jajahan tidak berhasil.
              Melayu (Sumatera)
                maupun Jawa.        Maka peradilan agama harus terus dipelihara eksistensinya, sedangkan bagi
                                    orang pribumi yang berafiliasi dengan Eropa, seperti orang Kristen dan mereka
                                    yang dianggap sederajat dengan Eropa sejak tahun 1864 tunduk kepada hukum
                                    BW (Bugelijke Wetboek). Akan tetapi peradilan agama tetap dalam perhitungan








                    164
   175   176   177   178   179   180   181   182   183   184   185