Page 185 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 185

Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3







           Reaksi Kaum Reformis dan Penghulu Terhadap

           Kebangkitan Hukum Adat





           Reaksi berbeda terhadap politik hukum adat muncul dari kalangan pemimpin
           Muslim modernis dan tokoh perjuangan pada umumnya. Bagi mereka,
           politik hukum adat tidak saja sebagai upaya melestarikan adat, tetapi juga
           melindunginya dari serangan kritik mereka. Bagimanapun, gerakan reformasi
           Islam meletakkan adat sebagai sasaran kritik, terutama elemen yang tidak sesuai
           dengan ajaran Islam.

                                                                                          Satu langkah sangat
           Satu langkah sangat penting diambil oleh kaum pergerakan Islam dalam           penting diambil oleh
           menghadapi politik hukum adat adalah sebuah mosi yang dikeluarkan dalam       kaum pergerakan Islam
           kongres ke-20 Partai Sarekat Islam pada 1934. Mosi itu antara lain menyatakan   dalam menghadapi
           pentingnya  penghapusan  adat  kuno  terkait  dengan  masalah  keluarga,        politik hukum adat
           perkawinan, dan waris apa bila adat dimaksud tidak sejalan dengan hukum        adalah sebuah mosi
                                                                                            yang dikeluarkan
           syari’ah dan asas kehidupan masyarakat modern. Mosi itu jelas tidak semata-    dalam kongres ke-20
           mata ditujukan kepada pemerintah kolonal tetapi juga kepada masyarakat          Partai Sarekat Islam
           Indonesia umumnya. Ketegangan antara adat dan Islam ini bukan saja disebabkan   pada 1934. Mosi itu
           pertentangan antara Pemerintah Kolonial dengan umat Islam, tetapi juga dipicu   antara lain menyatakan
           oleh friksi antara golongan Islam tradisionalis dan golongan Islam reformis yang   pentingnya
                                                                                           penghapusan adat
           progresif. Golongan yang disebut terkhir tampaknya merasa bahwa hukum          kuno terkait dengan
           syari’ah lebih sejalan dengan kehidupan modern daripada hukum adat yang         masalah keluarga,
           sudah ketinggalan jaman.                                                         perkawinan, dan
                                                                                           waris apa bila adat
           Peristiwa yang penting dicatat setelah keputusan tahun 1937 tentang           dimaksud tidak sejalan
           pemindahan otoritas pengadilan perkara waris umat Islam dari Raad Agama       dengan hukum syari’ah
                                                                                          dan asas kehidupan
           ke landraad adalah didirikannya Mahkamah Islam Tinggi (Hof voor Islamitische   masyarakat modern.
           Zaken), sebuah mahkamah banding bagi perkara yang telah di putus di Raad
           Agama. Khususnya para penghulu merasa bahwa didirikannya Mahkamah Islam
           Tinggi tidak dapat menutup kekecewaan mereka terhadap dipindahkannya
           pengadilan perkara waris ke Landraad. Ini merupakan hal yang prinsip, umat
           Islam tidak lagi dapat menjalankan salah satu sendinya, yakni pembagian waris
           menurut  hukum  Islam.  Bagi  umat  Islam  perkara  ini  sangat  penting, karena
           petunjuk hukumnya tercantum langsung dalam Al-Qur’an.

           Peraturan pemindahan kompetensi peradilan waris ke Landraad itu keluar bulan
           Februari 1937, dan hanya dalam tempo kurang dari tiga bulan para penghulu
           di Jawa dan Madura menyelenggarakan kongres di Solo untuk menyuarakan
           protes mereka terhadap pemerintah kolonial, menggugat peraturan itu.
           Kongres penghulu itu  menghasilkan asosiasi  Perserikatan Penghulu dan
           Pegawainya  (PPdP),  sebuah  wadah  perlawanan  terhadap  pemerintah.  Ketua
           PPdP dipercayakan kepada KH. Mohammad Adnan. Kedudukan Adnan sebagai





                                                                                                 169
   180   181   182   183   184   185   186   187   188   189   190