Page 187 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 187

Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3







           teguh pada pandangan Ter Haar sebagaimana dikemukakan kepada Komisi
           Perbaikan Raad Agama yang dibentuk tahun 1922, bahwa Landraad tidak boleh
           mengadili perkara waris menurut hukum Islam, sebab dalan soal waris hukum
           Islam tidak meresap ke dalam hukum adat. Raad Agama hanya boleh mengadili
           suatu perkara menurut hukum Islam apa bila sistem hukum itu benar-benar
           telah terintegrasi ke dalam hukum adat.  Agaknya pandangan inilah yang
                                                   21
           diterima oleh pemerintah Jepang pada waktu itu.











           Pelaksanaan Hukum Islam di Masa Kemerdekaan






           Memasuki zaman kemerdekaan, kedudukan lembaga peradilan syari’ah tetap
           lemah dan marginal. Hal ini bukan saja disebabkan kewenangan pengadilan
           perkara waris yang masih dikecualikan, tetapi organisasi dan pelaksanaannya
           di seluruh Indonesia juga masih tidak seragam. Kelompok-kelompok dengan
           kecenderungan sekuler yang telah berhasil menambatkan pandangannya pada
           perjuangan persiapan kemerdekaan tumbuh semakin kuat. Mereka menentang
           setiap usaha untuk mengembalikan kewenangan mengadili perkara waris ke
           mahkamah syari’ah. Kelangkaan sumberdaya manusia yang mumpuni menjadi
           salah satu alasan sulitnya mahkamah syari’ah memperoleh otoritas yang tinggi,
           dan mahkamah ini mengalami carut marut di seluruh wilayah republik baru
           ini. Tadak tersedianya dana yang mencukupi untuk menjalankan peradilan juga
           menjadi sebab lemahnya peradilan syari’ah ini.

           Menjelang akhir kedaulatan Jepang di Indonesia, sebenarnya para pemimpin
           kaum Muslim berusaha menyuarakan aspirasinya, bahwa di masa Indonesia            Menjelang akhir
           merdeka nanti Kementerian Agama perlu didirikan sebagai bagian kemestian yang   kedaulatan Jepang di
           bersumber pada sejarah Indonesia. Akan tetapi, Panitia Persiapan Kemerdekaan   Indonesia, sebenarnya
           Indonesia (PPKI), kelompok non-muslim dan kelompok nasionalis yang netral      para pemimpin kaum
           agama cenderung menolak ide perlunya lembaga semacam Kementerian Agama           Muslim berusaha
                                                                                             menyuarakan
           tersebut, dan dalam voting terhadap masalah ini kelompok Islam mengalami        aspirasinya, bahwa
           kekalahan. Oleh karena itu, pada kabinet pertama yang dibentuk Sukarno          di masa Indonesia
           pada tahun 1945, Departemen Agama tidak diadakan. Departemen Agama                merdeka nanti
           baru didirikan pada kabinet Syahrir bulan Matret 1946, atas desakan Komite     Kementerian Agama
           Nasional Indonesia Pusat (KNIP) atas dasar pasal 29 Undang-Undang Dasar yang   perlu didirikan sebagai
                                                                                         bagian kemestian yang
           menyatakan bahwa “Negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa, dan           bersumber pada sejarah
           negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya               Indonesia.
           masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya
           itu.”



                                                                                                 171
   182   183   184   185   186   187   188   189   190   191   192