Page 188 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 188

Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3


























           Pengadilan Agama Sumatera
           Barat.
           UU itu menyemaikan harapan
           baru di kalangan umat Islam
           Indonesia bahwa pemerintah
           akan memulihkan otoritas
           Pangadilan Agama.
           Sumber: Direktorat Sejarah dan Nilai Budaya.

                                    Dengan demikian, berdirinya Departemen Agama merupakan keharusan
                                    konstitusional, walaupun mendapat kritik dari beberapa orang kelompok
                                    sekuler.  Walaupun secara hukum, Departemen Agama menangani semua
                                    agama yang ada di Indonesia: Islam, Kristen, Katolik, Hindu dan Budha, tetapi
                                    Islam adalah yang paling banyak diuntungkan oleh adanya departemen ini.
                                    Hal ini disebabkan kebanyakan bagian dari departemen ini berkaitan dengan
                                    urusan agama Islam, sedangkan agama lain sekedar ada keterwakilannya untuk
                                    menjamin bahwa kepentingan mereka juga memperoleh perlindungan. Karena
                                    itu, walaupun Indonesia bukan negara Islam, negara ini menempatkan Islam di
                                    posisi yang tinggi.

                                    Ketika Departemen Agama berdiri, pengadilan syari’ah sudah ada di seluruh
                                    daerah  yang  mayoritas  penduduknya  Muslim:  Jawa,  Madura,  Sumatera,
                                    Kalimantan, Sulawesi Selatan dan Ternate. Bahkan, asosiasi hakim agama
                                    Perhimpunan Penghulu dan Pegawainya (PPDP) pun sudah berdiri sejak tahun
                                    1937. Selama penjajahan Belanda dan pendudukan Jepang, pengadilan-
                                    pengadilan syari’ah dan Mahkamah Islam Tinggi berada di bawah Departemen
                                    Kehakiman. Sejak Departemen Agama berdiri, Menteri Agama, Muhammad
                                    Rasjidi,  meminta agar  lembaga-lembaga pengadilan  tersebut dimasukkan
                                    ke dalam departemennya. Ketua PPDP, KHR. Muhammad Adnan yang juga
                                    ketua Mahkamah Islam Tinggi menyetujui permintaan Menteri Agama dengan
                                    pertimbangan bahwa di bawah Departemen Agama, pengadilan syari’ah akan
                                    lebih independen dan dijamin peningkatan mutunya. Pemindahan Mahkamah
                                    Islam Tinggi dan pengadilan-pengadilan syari’ah dari Departemen Kehakiman ke
                                    Departemen Agama terjadi pada 25 Maret 1946, melalui Peraturan Pemerintah
                                    No. 5/SD 1946. 22





                    172
   183   184   185   186   187   188   189   190   191   192   193