Page 192 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 192

Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3







                                    Menyusul  diberlakukannya  Undang-undang  No.  7/1989  itu  pemerintah
                                    mengeluarkan Instruksi Presiden No. 1 tahun 1991 yang berupa Kompilasi
                                    Hukum Islam sebagai hukum material yang dipakai sebagai dasar pedoman bagi
                                    Pengadilan Agama dalam melaksanakan fungsi mahkamahnya. Sebelum ini para
                                    hakim agama mendasarkan rujukannya pada kitab fikih yang kadang-kadang
                                    menyebabkan keadaan tidak kosisten di antara para hakim dan pengadilan
                                    agama.


                                    Dengan adanya Undang-undang Peradilan Agama dan Undang-undang
                                    Perkawinan, Indonesia memiliki dua undang-undang yang menyangkut
                                    kepentingan umat Islam. Dua undang-undang itu saling memperkokoh
                                    satu sama lain. Undang-undang Perkawinan membutuhkan Pengadilan
                                    Agama, karena pelaksanaan perkawinan membutuhkan lembaga yang
                                    mengadministrasikannya. Penting dikemukakan di sini bahwa antara kedua
                                    undang-undang itu seperti sebuah resiprositas. Ketika RUU Perkawinan diajukan
                                    ke DPR, kaum Muslimin yang menolak keras, lantaran rancangan undang-
                                    undang itu diusulkan oleh Departemen Kehakiman yang disusun oleh sejumlah
                                    ahli hukum dengan latar sekuler dan netral agama, sehingga sama sekali tidak
                                    memperhitungkan hukum syari’ah ke dalam RUU tersebut, sedangkan RUU itu
                                    akan mengatur kepentingan seluruh warganegara Indonesia di mana mayoritas
                                    adalah umat Islam. Di bawah pengaruh Partai Persatuan Pembangunan di DPR
                                    dan sejumlah pemimpin Islam di luar DPR, rancangan yang mula-mula sangat
                                    sekuler itu berhasil “di-Islamkan” sebelum RUU itu disetujui DPR. Kebalikan
                                    dari itu, RUUPA yang diajukan pemerintah ke DPR telah memperhitungkan
                                    prinsip-prinsip Islam di dalamnya. Ini merupakan konsekuensi bahwa RUU itu
                                    hanya akan mengatur urusan umat Islam saja. Belajar dari pengalaman tahun
                                    1974, pembahasan di tahun 1989 semua anggota DPR yang Muslim, baik
                                    dari Fraksi PPP, Fraksi Golkar, Fraksi PDI dan Fraksi ABRI, seluruhnya sepakat
                                    sehingga terhindar dari konflik antar partai. Seluruhnya memiliki pemandangan
                                    yang sama terhadap RUU. Maka tidaklah mengherankan jikalau RUU itu dapat
                                    disetujui DPR dengan suara bulat.




























                    176
   187   188   189   190   191   192   193   194   195   196   197