Page 193 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 193

Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3







           Kesimpulan





           Demikianlah uraian sejarah menelusuri dinamika pelaksanaan hukum Islam di
           Indonesia, mulai berdirinya kesultanan-kesultanan Islam di Nusantara sampai    Tahun 2004 gerakan
                                                                                           pengarusutamaan
           kepada lahirnya Undang-Undang No. 7 tahun 1989 tentantg Peradilan               gender mengkritisi
           Agama. Dengan diundangkannya Undang-undang No. 7 itu kontroversi politik      beberapa pasal dalam
           pelaksanaan syari’ah khususnya bidang peradilan telah berakhir. Selama 20     Kompilasi Hukum Islam
           tahun lebih pengalaman dijalankannya undang-undang tersebut telah dirasakan     sebagai terlampau
           manfaat besarnya oleh umat Islam Indonesia. Tidak berarti mulus tanpa kritik.   berpatron pada budaya
                                                                                            patriakhat. Soal
           Kritik itu justeru datang dari kalangan umat Islam sendiri, khusunya mengenai   poligami, soal lamaran
           Kompilasi Hukum Islam sebagai kelengkapan hukum undang-undang tersebut.       dan mahar dipandang
                                                                                          telah menempatkan
                                                                                           perempuan dalam
            Tahun 2004 gerakan pengarusutamaan gender mengkritisi beberapa pasal dalam     posisi subordinatif
           Kompilasi Hukum Islam sebagai terlampau berpatron pada budaya patriakhat.       terhadap laki-laki.
           Soal poligami, soal lamaran dan mahar dipandang telah menempatkan              Padahal Islam tegas-
           perempuan dalam posisi subordinatif terhadap laki-laki. Padahal Islam tegas-   tegas mengajarkan
           tegas mengajarkan bahwa antara laki-laki dan perempuan mempunyai derajat        bahwa antara laki-
           yang sama. Kelompok ini telah menyusun Kompilasi Hukum Islam alternatif (Tim   laki dan perempuan
                                                                                          mempunyai derajat
           Pengarusutamaan Gender Departemen Agama, 2004) yang isinya antara lain             yang sama.
           berseberangan dengan Kompilasi Hukum Islam yang telah di Inpreskan pada
           tahun 1991. Hingga kini gerakan ini dan Kompilasi Hukum Islam alternatif tidak
           lagi terdengar gaungnya, mungkin karena tidak mendapatkan sambutan positif
           dari mayoritas umat Islam sendiri.


           Berjalannya undang-undang itu menunjukkan bahwa jaminan pemerintah
           bahwa undang-undang itu semata-mata mengurus masalah teknis umat Islam
           telah dibuktikan. Begitu juga bahwa undang-undang itu sama sekali tidak terkait
           dengan pemulihan tujuh kata dalam Piagam Jakarta. Tidak pula hendak campur
           tangan urusan kehidupan agama dan komunitas agama lain. Kompetensi
           Pengadilan  Agama  mencakupi  perkara-perkara  terkait  dengan  perkawinan,
           perceraian,  wakaf,  zakat  infak  sedekah  bagi  semua  umat  Islam.  Pengadilan
           Agama juga menjadi tempat bertahkim secara opsional bagi umat Islam dalam
           kasus perkara waris. Ini dapat juga dipandang sebagai sebuah ‘kemenangan’
           umat  Islam  konservatif  yang  menginginkan  negara  Indonesia  lebih  Islami.
           Yang lebih menarik, ‘kemenangan’ ini tercapai justeru pada waktu Indonesia
           tidak memiliki partai politik Islam. Situasi ini memperkuat keyakinan sejumlah
           intelektual muslim modernis bahwa aspirasi warga negara yang beragama Islam
           memperoleh pelayanan negara dengan lebih baik pada waktu partai-partai
           politik Islam absen dalam perpolitikan Indonesia.
                                                        25
           Pada  tahun  2006  Undang-undang  No.  7  tahun  1989  itu  diamandemen
           menjadi Undang-undang No. 3 tahun 2006. Agaknya undang-undang No. 7
           tidak lagi dapat menampung perkembangan baru yang tumbuh di Indonesia,




                                                                                                 177
   188   189   190   191   192   193   194   195   196   197   198