Page 190 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 190

Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3







                                    52 tahun kuasa pengadilan perkara waris dipindahkan ke pengadilan umum,
                                    dan setelah 43 tahun kemerdekaan tidak ada kemajuan yang substansial dalam
                                    masalah ini.

                                    RUU itu menyemaikan harapan baru di kalangan umat Islam Indonesia bahwa
                                    pemerintah akan memulihkan otoritas Pangadilan Agama. Tambahan pula,
                                    di tengah suasana ketika ketegangan antara kaum santri dan kaum abangan
                                    mulai  mereda,  dan  ketika  toleransi  mulai  meningkat  antara  kaum  Muslimin
                                    dengan non-Muslim sebagai buah dari politik Orde Baru di bawah Soeharto,
                                    kalangan umat Islam berharapan positif bahwa perdebatan di DPR terhadap
                                    RUUPA ini bakal berjalan dengan lancar. Namun dalam kenyataan, ketika di DPR
                                    pembahasan RUUPA berlangsung di luar parlemen muncul perdebatan yang
                                    sengit antara yang pro dan yang kontra adanya peradilan agama.

             Secara umum dapat
               dikatakan bahwa      Secara umum dapat dikatakan bahwa perdebatan di luar DPR sama seperti yang
              perdebatan di luar    terjadi di dalam DPR. Hampir seluruh golongan umat Islam menyetujui adanya
               DPR sama seperti     undang-undang itu, dan kebanyakan yang menentang adalah golongan umat
             yang terjadi di dalam   beragama lain. Terutama umat Kristiani, baik yang duduk di DPR mewakili Partai
             DPR. Hampir seluruh    Demokrasi Indonesia (PDI) maupun yang di Golkar, menganggap bahwa RUU
             golongan umat Islam
              menyetujui adanya     itu bertentangan dengan prinsip Pancasaila sebagai dasar negara dan UUD
             undang-undang itu,     1945. Mereka beranggapan bahwa RUUPA membahayakan persatuan bangsa,
             dan kebanyakan yang    karena berarti negara akan menyerahkan sebagian kewenangannya kepada
              menentang adalah      suatu agama dan ini terang-terangan telah melanggar konsensus nasional.
               golongan umat        Mereka menganggap bahwa keputusan PPPKI tanggal 18 Agustus 1945 yang
                beragama lain.
                                    menghapus tujuh kata dari Piagam Jakarta berarti warga negara keseluruhannya,
                                    termasuk yang beragama Islam harus pula tunduk kepada keputusan itu, yang
                                    berarti syari’ah Islam tidak masuk dalam konstitusi.


                                    Maka tidak mengherankan jika orang abangan mempunyai pandangan yang
                                    sejajar dengan keberatan pengantut agama Kristen. R. Suprapto, misalnya,
                                    seorang mantan Gubernur DKI yang menjabat sebagai wakil ketua MPR menulis
                                    surat resmi kepada Ketua DPR dan semua ketua fraksi di DPR mendesak mereka
                                    agar menolak RUUPA. Dalam suratnya itu, Suprapto menyatakan bahwa RUU itu
                                    bertentangan dengan Pancasila dan UUD 1945, dan negara tidak mempunyai
                                    hak untuk mengatur pelaksanaan syari’ah kaum Muslimin. Amir Mahmud,
                                    mantan ketua DPR mendukung pandangan Suprapto dan menyatakan bahwa
                                    RUU itu akan merusak persatuan bangsa.

                                    Sejumlah pakar hukum yang diindikasi kelompok abangan menyuarakan
                                    pandangan yang sama dengan non-Muslim. Akan tetapi, para pakar hukum
                                    yang familiar dengan hukum adat cenderung melihat RUU dengan cara yang
                                    cerdik. Dalam mencari jalan keluar dari kesulitan tersebut, mereka melihat bahwa
                                    sekalipun  pengadilan  agama  berakar  cukup  dalam  pada  tradisi  dan  sejarah
                                    Indonesia, tetapi perlu dibedakan antara ‘pengadilan’ dan ‘peradilan’. Yang
                                    pertama menunjuk kepada kelembagaan, sedangkan yang kedua merupakan





                    174
   185   186   187   188   189   190   191   192   193   194   195