Page 186 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 186

Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3



































           Suasana di dalam landraad.
           Sumber: KITLV

                                    ketua  Hof voor Islamitishe Zaken tidak menghalanginya untuk tetap kritis
                                    terhadap pemerintah kolonial, karena bagaimananpun peraturan tahun 1937
                                    menyangkut soal nasib lembaga yang puluhan tahun ia pimpin (Raad Agama
                                    Surakarta) maupun lembaga baru yang lebih tinggi eselonnya.

                                    Menanggapi  peraturan  1937  itu  Majelis  Islam  A’la  Indonesia  (MIAI)  yang
                                    merupakan  wadah  persatuan  perjuangan  umat  Islam  ketika  itu  (didirikan
                                    1937) menggelar kongres Al-Islam. Kongres Al-Islam I di Surabaya tahun 1939
                                    diikuti oleh seluruh organisasi Islam yang ada pada waktu itu mengeluarkan
                                    mosi protes terhadap pemerintah kolonial, menolak pemindahan pengadilan
                                    perkara waris umat Islam ke Landraad dan meminta kepada pemerintah untuk
                                    mengembalikan kewenangan ini kepada Raad Agama.

                                    Namun, pemerintah kolonial Belanda sama sekali tidak menghiraukan tuntutan
                                    umat Islam tersebut sampai kepergian mereka dan digantikan pendudukan
                                    tentara Jepang. Pemerintah pendudukan bala tentara Jepang memang
                                    menaruh perhatian pada urusan umat Islam, tetapi dalam soal Raad Agama
                                    tidak melakukan tindakan apa-apa. Jepang hanya mengganti nama Raad
                                    Agama menjadi Sooroyo Hooin dan Hof voor Islamitische Zaken diganti nama
                                    menjadi  Kaikiyo Kotoa Hooin. Masyarakat Muslim sebenarnya mempunyai
                                    harapan tinggi akan adanya perhatian Jepang karena janji-janji mereka yang
                                    akan memenuhi harapan rakyat Indonesia, sebagai imbalan dari kerjasama yang
                                    diminta oleh Jepang. Akan tetapi tuntutan umat Islam untuk dikembalikannya
                                    wewenang peradilan perkara waris ke Raad Agama tidak diperhatikan. Hal ini
                                    disebabkan Soepomo, yang ditunjuk pemerintah Jepang untuk menangani
                                    masalah ini, tetap berpihak pada pandangan pro-adat. Ia tetap berpegang





                    170
   181   182   183   184   185   186   187   188   189   190   191