Page 181 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 181

Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3







           kemungkinan menimbulkan bahaya perang yang bakal menelan biaya tinggi.
           Karena itu politik rekayasa kepada peradilan ini pun dijalankan.

           Rekayasa pertama adalah menempatkan posisi peradilan agama di bawah
           peradilan yang dibuat Belanda, landraad. Landraad diposisikan di atas peradilan
           agama yang mengharuskan keputusan-keputusan pengadilan agama dimintakan
                                                                     13
           izin kepada landraad sebelum dieksekusi (executoir verklaring).

           Di samping  itu,  pemerintah  kolonial juga mencoba memutus hubungan
           antara penghulu dengan para penguasa pribumi. Hubungan antara penghulu
           dengan penguasa, yang berarti hubungan antara penghulu dan negara,
           biasanya diikat oleh tali kekerabatan. Kepala pengadilan agama adalah juga
           kepala masjid “negara”, masjid yang dibangun di tiap-tiap ibukota kerajaan
           maupun kabupaten. Mereka diangkat oleh sultan di pusat (keraton) atau oleh
           bupati di kabupaten. Sultan ataupun bupati dalam memilih penghulu biasanya
           memperhitungkan hubungan kerabat. Itulah sebabnya pemerintah kolonial
           Belanda melakukan reorganisasi atas pengadilan agama pada 1882. Reorganisasi
           ini dapat dilihat sebagai upaya pemerintah memutusan linkage antara penghulu
           dengan penguasa, sultan ataupun bupati.


           Dengan reorganisasi 1882, Belanda melakukan inkorporasi pengadilan agama
           dan penghulunya ke dalam administrasi kolonial, dan pengangkatan mereka
           pun berpindah dari penguasa pribumi ke pemerintah kolonial. Dengan demikian,
           kepenghuluan tidak saja menjadi independen terhadap penguasa pribumi dan
           dengan demikian hubungan antara mereka pun pelan-pelan dapat diperlonggar.     Pemerintah kolonial
                                                                                   14
           Selain itu, reorganisasi itu pun mengubah nama pengadilan syari’ah dari Hukum   juga mencoba memutus
                                                                                            hubungan antara
           Surambi Dalem menjadi Priesterrad yang secara harfiah berarti majelis pendeta.   penghulu dengan para
           Nomenklatur ini kemudian menelan kritik sangat keras dari penasehat kolonial,   penguasa pribumi.
           Snouck Hurgronje yang datang kemudian. Ia mengatakan bahwa penamaan             Hubungan antara
           itu merupakan kesalahan besar, sebab di dalam agama Islam tidak ada sistem      penghulu dengan
           pendeta.  Di kalangan orang pribumi yang merasa bingung dengan penamaan       penguasa, yang berarti
                   15
                                                                                            hubungan antara
           itu menyebut  priesterraad menjadi Raad Agama, nama yang dalam benak           penghulu dan negara,
           mereka terasa lebih pas.                                                      biasanya diikat oleh tali
                                                                                          kekerabatan. Kepala
           Di sisi lain, reorganisasi tahun 1882 itu juga memunculkan masalah fiqhiyyah,   pengadilan agama
                                                                                           adalah juga kepala
           yakni perihal keabsahan  tauliyah penghulu yang berpindah dari penguasa       masjid “negara”, masjid
           pribumi yang Muslim ke penguasa kolonial yang kafir. Syahkah seorang kadi     yang dibangun di tiap-
           diangkat oleh penguasa kafir? Akan tetapi kontroversi ini tidak sampai berlarut-  tiap ibukota kerajaan
           larut, berkat jasa penasehat honorer pemerintah kolonial, seorang habib        maupun kabupaten.
           keturunan Hadrami yakni Sayyid Usman bin Abdullah bin Aqil bin Yahya al-‘Alawi
           al-Husaini atau akrab dipanggil Sayyid Usman (1822—1913). Ia seorang ulama
           yang tinggal di Batavia yang banyak menulis kitab dalam bahasa campuran
           Melayu Arab. Tahun 1881 Sayyid Usman telah menulis sebuah kitab berjudul Al-








                                                                                                 165
   176   177   178   179   180   181   182   183   184   185   186