Page 182 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 182

Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3







                                    Qawanin as-Syar’iyyah li Ahli al-Majalis al-Hukmiyah berisi pedoman bagi para
                                    penghulu untuk melaksanakan mahkamah. Setelah Snouck Hurgronje datang
                                    ke Indonesia (1889) Sayyid Usman merivisi kitab Qawanin tersebut. Dalam edisi
                                    terdahulu kitab ini tidak memuat soal  tauliyah oleh pemerintah kafir. Dalam
                                    edisi baru (1889) setelah ia dianggakat menjadi penasehat honorer pemerintah
                                    kolonial, dengan merujuk pada kitab Fath al-Mu’in Sayyid Usman menyebutkan
                                    bahwa  tauliyah  kepada hakim  oleh penguasa  yang  bukan  Muslim  itu  syah
                                    adanya.
                                            16










                                    Reformasi dan Politik Hukum Islam





                                    Pada awal abad ke-20, sejalan dengan meningkatnya gerakan reformasi Islam,
                                    keberadaan Raad Agama mulai dipersoalkan. Mereka—ulama dan tokoh Muslim
                                    aktivist  gerakan  reformasi  Islam—mengkritik  bahwa  Raad Agama itu lemah,
                                    dan para penghulu bukan hanya telah menjadi bagian dari pelayan pemerintah
                                    kolonial yang kafir, tapi juga tidak memiliki kemampuan administratif memadai
                                    untuk menangani administrasi peradilan yang semakin kompleks. Kritik-kritik
                                    yang keras itu menyadarkan para penghulu bahwa mereka bukan saja bekerja
                                    sebagai organ kolonial Belanda tanpa gaji, tetapi pemerintah kolonial sendiri
                                    juga tidak mempersiapkan  sarana untuk meningkatkan kemampuan mereka
                                    seperti pendidikan yang memadai untuk kedudukan penghulu.

                                    Kesadaran ini mendorong kalangan pergerakan Islam, khusunya Sarekat Islam
                                    dan Muhammadiyah, mendesak pemerintah agar meningkatkan kualitas
                                    Raad Agama dan penghulunya, dan mengancam jika pemerintah tetap tidak
                                    melakukan apa-apa, maka Sarekat Islam akan mendirikan pengadilan syari’ah
                                    sendiri yang independen dengan nama Raad Ulama.
                                                                                     17
                                    Kritik tajam di atas, disuarakan baik oleh kalangan pergerakan maupun para
                                    penghulu sendiri, direspon pemerintah kolonial Belanda dengan membentuk
                                    Komisi Perbaikan Priesterraad. Komisi yang diketuai oleh Dr. Husein Djajadiningrat
                                    dengan anggota dari sejumlah pemuka penghulu dan ketua Muhammadiyah
                                    kemudian menghasilkan sejumlah rekomendasi, antara lain Raad Ulama seperti
                                    diusulkan oleh Sarekat Islam tidak boleh berdiri. Sistem peradilan kolegial pada









                    166
   177   178   179   180   181   182   183   184   185   186   187