Page 179 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 179

Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3







           wetten  en  gewoonten  nopens  erfenissen,  huwelijken  en  echtscheidingen
           (Undang-undang Pokok Hukum Islam dan Adat Tentang Kewarisan, Perkawinan,
                          9
           dan Perceraian).
           Tahun  1750,  ketika  telah  menguasai  sebagian  besar  wilayah  pesisir  utara
           Jawa, VOC kembali memerintahkan penyusunan kompendium. Maka tersusun
           kompendium Mugharraer. Disebut demikian karena merupakan saduran dari
           kitab Muharrar karya Abu al-Qasim ‘Abdl Karim bin Muhammad ar-Rafa’i dari
           Qaswin, Persia, wafat 623 H.  Kitab ini telah lama menjadi pedoman, semacam
                                      10
           undang-undang  bagi  para  penghulu  dalam  mengadili  kasus-kasus  yang
           dihadapkan kepadanya.

           Akan tetapi di wilayah kesultanan seperti di Jawa, daerah yang masih “merdeka”
           dari penjajahan Belanda, pengadilan penghulu tetap berjalan menurut adatnya,
           dengan kompetensi menyeluruh. Dikatakan menyeluruh karena kewenangannya
           meliputi perkara-perkara sipil, pidana dan perdata. Keberlangsungan kekuasaan
           pengadilan penghulu yang menyeluruh itu sekurang-kurangnya sampai dekade
           kedua  abad ke-18. Oleh pengaruh Belanda, mulai masa itu peradilan di Keraton
           Surakarta misalnya dibagi dua bidang, dinamai menurut tempatnya, yakni
           Pengadilan  Surambi  (hukum surambi dalem)  menangani  kasus-kasus  perkara
           agama (sipil), dan pengadilan kepatihan atau Pengadilan Pradhoto, menangani
           perkara sekuler.
                         11





                                                                                       Serambi bagian depan.Masjid
                                                                                       Agung Surakarta merupakan
                                                                                       tempat pelaksanaan persidangan
                                                                                       Peradilan Surambi.
                                                                                       Sumber: Direktorat Sejarah dan Nilai Budaya.






























                                                                                                 163
   174   175   176   177   178   179   180   181   182   183   184