Page 176 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 176
Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3
Nama pejabat syari’ah di Nusantara beraneka macam di tiap kerajaan. Di Jawa
Kadi biasa disebut
pejabat syari’ah dan disebut pangulu dan kantornya disebut pangulon. Di Aceh lembaga itu disebut
dibentuk di semua kadi malikun ade’, di Banjar, Kalimantan Selatan disebut kerapatan kadi, di
kesultanan (Islam) di Sulawesi Selatan disebut perewa syara’, di Ternate Bobato Akhirat, di Sumatera
Nusantara. Pejabat Selatan, penghulu, dan di Sambas dinamakan Imam Raja. Apapun namanya,
syari’ah dalam
praktiknya menjalankan keseluruhan itu adalah lembaga ‘pengawal’ berjalannya hukum syari’ah di
dua fungsi, yakni wilayah kerajaan masing-masing.
pembinaan
pelaksanaan syari’ah Kompetensi pejabat syari’ah sebagaimana didelegasikan oleh raja dapat dilihat,
pada umumnya dan sekedar contoh, pada serat kekancingan atau surat keputusan Raja Surakarta,
pelaksana mahkamah.
Susuhunan Paku Buwono X pada waktu mengangkat Penghulu Tapsir Anom V
tahun 1884. Kemungkinan besar teks surat keputusan raja merupakan formula
yang tetap sejak berdirinya kerajaan Islam Mataram. Bunyi selengkapnya
sebagai berikut: 8
1. Hingsung hagawe pangulu marang sira, hingsun lilani nindaake hukum
sarak, sing kagolong bangsane bab ngibadah, lang sing pantes sira
pitaya maring bocah hingsun pamutihan. Ngibadah kang sira pitayaake
kayata: imam jumungah, lan barjamangah lan sapanunggalane. (Saya
angkat saudara menjadi penghulu, saya serahkan tugas kepadamu untuk
menjalankan hukum syara’, termasuk di antaranya persoalan ibadah, dan
yang pantas saudara percayakan kepada kawula pamutihan (pegawai
agama). Ibadah yang dipercayakan kepada saudara antara lain, imam
jumat, dan (salat) berjamaah, dan sejenisnya.)
2. Lan hukumingsung kang hingasun paringake hana hing surambiningsun,
rupane kayata talak, waris, wasiyat, salakirabi, atawa barang gana-gini,
sapanunggalane, sabanjure tumindakingsun pitaya marang sira. Hapa
kang wus dadi benere, sarta mupakat ijtihade, bocahingsun ketib ngulomo
sabanjure. (Dan hukum saya yang saya percayakan kepada saudara
(untuk dilaksanakan) di serambi (masjid) saya, antara lain: waris, wasiat,
perkawinan, dan barang gono gini dan sejenisnya, kemudian keputusan
saya percayakan kepada saudara. Apa yang (sudah dipandang) benar dan
disepakati oleh ijtihadnya kawula saya ketib, ulama dan seterusnya.)
3. Lan hingsun mitayaake marang sira mungguh agamane bocahingsun
hing Surakarta kabeh, sakuwatiro holehiro muruk, mengkono maneh
bocahingsun pradikan lan kahum sapanunggalane, kang pada
kagunganingsun abdiningsun pamutihan, bab harjaning agama rasul,
holehira nindaake hapa kang dadi benere hukum, hingsun ya wis pitaya
maring sira. (Dan saya percayakan kepada saudara (pelaksanaan) agama
kawula saya di seluruh (kerajaan) Surakarta, sekuat saudara dalam
mengajar (membimbing) mereka, demikian pula kawula saya di perdikan
serta kaum seterusnya, kawula pamutihan yang menjadi tanggung jawab
saya, demi si’arnya agama rasul (Islam) dalam melaksanakan hukum yang
benar, juga saya percayakan kepada saudara.)
160

