Page 178 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 178

Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3







                                    Kelembagaan Hukum Islam di Masa Kolonial





                                    Kedatangan bangsa Belanda yang kemudian menguasai daerah-daerah secara
               Ketika Vereenigde    de-facto selalu dibarengi dengan penerapan kelembagaan peradilan sebagai
                 Oost-Indische
               Compagnie (VOC)      simbol penguasaan atas suatu wilayah. Sebagaimana diketahui, hukum dan
              menguasai wilayah     peradilan merupakan simbol kekuasaan.  Ketika  Vereenigde Oost-Indische
              Jawa Barat di awal    Compagnie  (VOC)  menguasai  wilayah  Jawa  Barat  di  awal  abad  ke-17,
            abad ke-17, pemerintah   pemerintah VOC mendirikan lembaga peradilan, namanya berubah-ubah tetapi
               VOC mendirikan       dalam perkembangan terakhir disebut landraad pada setiap daerah yang baru
              lembaga peradilan,
              namanya berubah-      dikuasasinya sebagai bentuk perwujudan kekuasaannya. Dengan berdirinya
               ubah tetapi dalam    landraad  maka  di  tiap-tiap  kabupaten terdapat  dua jenis  peradilan,  yakni
                perkembangan        peradilan pribumi yang di Jawa disebut hukum surambi dalem yang berpusat
                terakhir disebut    di serambi masjid di satu pihak, dan peradilan bentukan Belanda yang disebut
             landraad pada setiap   landraad di pihak lain. Inilah untuk pertama kalinya, lembaga peradilan di
               daerah yang baru
             dikuasasinya sebagai   Indonesia mengalami dualisme. Pengadilan surambi yang dikepalai oleh seorang
              bentuk perwujudan     penghulu yang mempunyai kompetensi di bidang perkara agama, sedangkan
             kekuasaannya. Inilah   landraad menangani perkara sekuler, kasus-kasus kriminal maupun perdata.
            untuk pertama kalinya,   Walaupun demikian, pada peradilan kasus dengan ancaman hukuman mati,
             lembaga peradilan di   landraad selalu meminta nasehat penghulu.
             Indonesia mengalami
                  dualisme.
                                    Akan tetapi, sistem peradilan buatan Belanda itu pada awalnya tidak bisa
                                    berjalan dengan efektif. Kegagalan itu disebabkan pada umumnya orang
                                    pribumi yang beragama Islam lebih taat kepada hukum syari’ah agamanya
                                    daripada hukum Belanda yang tidak sesuai dengan pandangan hidup mereka.
           Duduk di depan tengah : Kepala   Keadaan seperti ini menyadarkan penguasa Belanda bahwa rakyat daerah yang
           Landraad yang bertindak sebagai
           hakim, Jaksa dan penghulu   dikuasainya memiliki sistem kepercayaan sendiri, yang dipegang teguh sebagai
           (duduk paling kanan) dengan   jalan hidupnya dan mempengaruhi sistem hukumnya. Sekali VOC  mengakui
           baju khas. Tutup kepala surban .   eksistensi hukum pribumi lengkap dengan lembaga peradilannya, maka apa
           Yang duduk di lantai terdakwa
                                                             yang  dapat  mereka  lakukan  adalah  mengusahakan
           Sumber: KITLV
                                                              adanya kodifikasi hukum pribumi, agar kepastian
                                                              hukum  dapat  terjamin.  Maka pada  tahun  1754,
                                                              Gubernur Jendral J. Mossel memerintahkan para
                                                              residen agar meminta bantuan kepada para
                                                              penghulu dan ulama (Mohammedaansche priesters)
                                                              untuk melakukan kompilasi hukum pribumi, yang
                                                              nantinya dapat dijadikan kompendium yang dapat
                                                              dipakai sebagai hukum positif, pegangan bagi
                                                              lembaga peradilan pribumi. Tahun 1760 diterbitkan
                                                              sebuah kompendium yang biasanya disebut
                                                              sebagai Kompendium Freijer, nama yang diambil
                                                              dari pemimpin proyek kompilasi, dan dinamainya
                                                              Compendium der voornaamste Mohammedannsche






                    162
   173   174   175   176   177   178   179   180   181   182   183