Page 303 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 303
Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3
Tiga ulama besar asal Indonesia yang mengajar di Masjidil Haram memiliki
Tiga ulama besar
pengaruh besar terhadap lahirnya gerakan sosial, keagamaan dan politik di asal Indonesia yang
Indonesia sebelum kemerdekaan. Ketiga ulama itu adalah Syaikh Nawawi al- mengajar di Masjidil
Bantani (wafat 1897), Syaikh Ahmad Khatib (wafat 1915) dan Syaikh Mahfuzh Haram memiliki
at-Turmusi (wafat 1920). Ketiga syaikh ini menurut Bruinessen merupakan pengaruh besar
4
ulama-ulama Indonesia yang memiliki kedudukan tertinggi di Masjidil Haram terhadap lahirnya
gerakan sosial,
karena setelah itu tidak ada lagi orang-orang Indonesia yang memiliki kedudukan keagamaan dan politik
setara dengan mereka.Ketiganya berhasil melahirkan tokoh-tokoh Islam baik di Indonesia sebelum
kemerdekaan. Ketiga
yang berlatang belakang tradisional maupun modern. ulama itu adalah Syaikh
Nawawi al-Bantani
(wafat 1897), Syaikh
Nawawi Banten adalah pengarang paling produktif. Di samping menulis kitab Ahmad Khatib (wafat
tafsir, dia juga menulis berbagai kitab dalam disiplin ilmu Islam yang dipelajari 1915) dan Syaikh
di pesantren. Dia memberikan penjelasan secara lengkap matan kitab-kitab di Mahfuzh at-Turmusi
pesantren dan sekaligus melengkapi dan mengoreksi isinya . Karenanya, tidak (wafat 1920).
5
mengherankan apabila dia dianggap sebagai guru paling terkenal bagi para kyai
dan ulama tradisional di pesantren-pesantren di Indonesia. Ulama pembaharu
Ahmad Khatib pun menganggap Nawawi Banten ini sebagai gurunya. Karya-
karyanya lebih dari 22 buku masih dipakai di kalangan pesantren dan 11 judul
kitabnya merupakan kitab-kitab yang paling banyak digunakan di pesantren-
pesantren di antara 100 kitab yang ada (Bruinessen,1990).
Di Minangkabau lahir tokoh agama yang sangat berpengaruh dan menjadi
guru bagi ulama-ulama pembaharu Islam di Sumatera, Jawa dan daerah-daerah
lainnya. Ulama ini bernama Syaikh Ahmad Khatib yang lahir di Bukittinggi pada Nawawi Banten adalah
tahun 1855. Setelah menyelesaikan pendidikan dasar Ahmad Khatib pada tahun pengarang paling
1876 melakukan perjalanan ke Mekkah dan menetap di sana. Di Tanah Suci dia produktif. Karenanya,
tidak mengherankan
kemudian mendapatkan kedudukan tinggi dan terhormat sebagai imam dari apabila dia dianggap
mazhab Syafi’i di Masjidil Haram. Kedudukan yang terpandang yang pernah sebagai guru paling
diraih oleh orang Indonesia di Mekkah. Ahmad Khatib memiliki hubungan yang terkenal bagi para kyai
dan ulama tradisional
erat dengan orang-orang Indonesia yang menunaikan ibadah haji dan belajar di pesantren-pesantren
agama Islam di Tanah Suci. Melalui murid-murid ini terjalin hubungan yang di Indonesia. Di
erat dengan umat Islam di Indonesia karena sebagian besar murid-muridnya Minangkabau lahir
tokoh agama yang
mengajarkan ilmunya di penjuru daerah di Indonesia sepulang mereka dari sangat berpengaruh
Tanah Suci. Di antara murid-murid Ahmad Khatib yang terkenal adalah Syaikh dan menjadi guru
Muhammad Djamil Djambek, Haji Abdul Karim Amrullah, Haji Abdullah Ahmad, bagi ulama-ulama
pembaharu Islam
Haji Ahmad Dahlan, Syaikh Sulaiman Ar-Rasuli dan Kyai Haji Hasyim Asj’ari. di Sumatera, Jawa
dan daerah-daerah
lainnya. Ulama ini
Di samping mengajarkan fikih mazhab Syafi’i, Syaikh Ahmad Khatib memberikan bernama Syaikh Ahmad
kesempatan kepada murid-muridnya untuk membaca tulisan-tulisan karya Khatib yang lahir di
pembaharu Muhammad Abduh dari Mesir yang dimuat dalam majalah al-Urwah Bukittinggi tahun 1855.
al-Wusqa dan tafsir al-Manar . Di sinilah pengaruh tentang ide-ide politik terus
6
berkembang dan mendorong perjuangan politik di Indonesia.Gerakan modern
Islam di Indonesia diawali dari murid-murid Ahmad Khatib di Minangkabau
dan daerah-daerah lain di Indonesia yang menjadi pusat penyebaran dan
pengembangan Islam.
287

