Page 308 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 308

Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3







                                                              Surakarta Tjokroaminoto mulai mengembangkan SI
                                                               sebagai organisasi yang memiliki cabang menyebar
                                                               ke seluruh  penjuru Indonesia.  Dia pun  kemudian
                                                               meminta pengakuan  dari pemerintah dan
                                                               menuntut agar pengawasan preventif dan represif
                                                               secara administratif ditiadakan.  Perubahan SI di
                                                               bawah kepemimpinan Tjokroaminoto yang bersifat
                                                               nasional ini ditandai dengan diadakannya kongres
                                                               SI pertama di Surabaya pada bulan Januari 1913
                                                               yang dihadiri oleh utusan-utusan dari berbagai
                                                               daerah di Jawa dan di luar Jawa yang meliputi
                                                               tiga wilayah organisasi yaitu wilayah Jawa Timur
                                                               (Sulawesi,  Bali,  Lombok,  Sumbawa  dan  pulau-
                                                               pulau  di  bagian  Indonesia  Timur),  Jawa  Tengah
                                                               (meliputi  Kalimantan)  dan  Jawa  Barat  (meliputi
                                                               Jawa  Barat  dan  Sumatera).    Untuk  memenuhi
                                                               peraturan Hindia Belanda yang mensyaratkan
                                                               organisasi tidak bersifat nasional maka SI berusaha
                                                               untuk tetap melakukan kordinasi dan kerjasama
                                                               dengan SI di daerah-daerah. Pada akhirnya dalam
                                                               pertemuan khusus di Yogyakarta, 18 Februari 1914
                                                               SI kemudian membentuk sebuah kepengurusan
                                                               pusat   dengan    menunjuk     H.   Samanhoedi
                                                               sebagai ketua kehormatan dan Tjokroaminoto
                                                               sebagai  ketua  dan Gunawan  sebagai  wakil
           Artikel mengenai Tjokroaminoto                     ketua. Tjokroaminoto secara resmi menjalankan
           di Tjaja Hindia. dalam artikel
           ini dikemukanan bahwa    kepengurusan harian organisasi guna merealisasikan cita-citanya. Pada tanggal
           Tjokroaminoto adalah pejuang   18 Maret 1916 Pengurus Central Sarekat Islam disahkan oleh pemerintah Hindia
           yang keras memperjuangkan   Belanda.
           kemerdekaan rakyat Indonesia
           Sumber: Perpustakaan Nasional
                                    Sosok yang paling terkenal dalam SI adalah Tjokroaminoto. Dia sering dianggap
                                    sebagai satu-satunya dalam organisasi ini dan terus dipertahankan hingga akhir
                                    hayatnya di tahun 1934. Di masa Tjokroaminoto SI mengalami perkembangan
                                    pesat dibanding masa-masa awal SI di bawah kepemimpinan H. Samanhoedi.
                                    Keterbatasan pendidikan yang dimiliki oleh H. Samanhoedi menjadikan
                                    organisasi tidak memiliki program kerja yang jelas. Tjokroaminoto cenderung
                                    memperlihatkan sikap mendua terhadap pemerintah Hindia Belanda. Pada
                                    satu sisi menunjukkan sikap loyal kepada pemerintah tetapi pada sisi yang
                                    lain membangun sikap kebangsaan, menuntut hak-hak kemanusiaan dan
                                    memperbaiki nasib rakyat Indonesia. Dia menolak anggapan bahwa SI adalah
                                    sebuah parti politik maupun sebuah partai yang menginginkan revolusi.
                                    Sikapnya bisa dipahami karena pada waktu itu memang aturan dari pemerintah
                                    Hindia Belanda menyatakan bahwa partai politik tidak diijinkan berdiri . Dalam
                                                                                                      17
                                    perjuangan  politiknya  dia  lebih  menunjukkan  sikap  bekerjasama  (koperatif)
                                    dengan pemerintah.





                    292
   303   304   305   306   307   308   309   310   311   312   313