Page 312 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 312

Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3







                                    Kepulangan Jakub dan Muchtar ke Minangkabau bertepatan dengan masa
             Mengingat kebijakan
              non koperatif dan     kemunduran  sekolah-sekolah Thawalib  karena perselisihan-perselisihan
               sikap yang kritis    di kalangan Thawalib setelah kehadiran  pengaruh komunisme. Thawalib
             terhadap pemerintah    mengalami kebangkitan kembali setelah kegiatan-kegiatan komunisme di
               kolonial, banyak
              tokoh-tokoh Permi     Minangkabau dapat dipadamkan. Dua sosok tokoh muda yang baru pulang
              yang mendapatkan      dari  Mesir  dan  membawa pengalaman-pengalaman  politik  ini  telah  berhasil
              pengawasan ketat.     membangkitkan kembali semangat politik di wilayah Sumatera. Permi didirikan
               Kondisi semakin
              berat ketika tokoh-   atas dasar pengamatan mereka terhadap perkembangan SI di Jawa yang
              tokoh Permi yaitu     mengalami polarisasi antara kubu Islam dan kebangsaan. Oleh karena itu Permi
              Muchtar Luthfi, Iljas   berusaha untuk menggabungkan dua kecenderungan itu karena kedua sifat itu
             Jakub dan Djalaludin   tidak dapat dipisahkan satu sama lain dari diri seorang muslim .
                                                                                              21
              Thaib diasingkan ke
            Digul, Papua. Sebelum
              masuknya penjajah     Secara umum Permi menjalankan kebijaka politik non koperatif dengan
                Jepang mereka
            kemudian dipindahkan    mencita-citakan Islam yang mulia dan Indonesia yang merdeka. Partai ini sangat
               ke Australia oleh    menentang kapitalisme dan imperialisme karena dianggap telah menyengsarakan
                  Belanda.          rakyat Indonesia. Oleh karena itu satu-satunya jalan untuk mengangkat derajat
                                    rakyat Indonesia adalah dengan mendapatkan kemerdekaan Indonesia. Cita-
                                    cita kemerdekaan telah tertanam dalam diri para anggota Permi dan terus
                                    diperjuangkan melalui kegiatan politik. Namun demikian Permi tetap melakukan
                                    akfitisa di bidang pendidikan dengan mendirikan sebuah Islamic College di
                                    Padang pada tahun 1931. Partai ini juga melakukan kegiatan ekonomi dan
                                    berusaha untuk memenuhi kebutuhan sendiri dengan gerakan swadesi yang
                                    menekankan pada usaha-usaha sesama putra bangsa. Permi membuka cabang-
                                    cabangnya di Sumatera Tengah, Bengkulu, Tapanuli, Kalimantan Timur dan
                                    Aceh. Karenanya, Permi dianggap sebagai partai alternatif bagi orang-orang
                                    Sumatera pada saat SI mengalami kemunduran.

                                    Mengingat kebijakan non koperatif dan sikap yang kritis terhadap pemerintah
                                    kolonial, banyak tokoh-tokoh Permi yang mendapatkan pengawasan ketat.
                                    Beberapa tokoh-tokoh wanitanya seperti Fatimah Hatta, Ratna Sari, Rasuna
                                    Said dan Rasimah Ismail sempat ditahan selama sepuluh hari di Semarang
                                    karena pidato-pidatonya yang sangat radikal. Beberapa guru-guru yang
                                    berafiliasi dengan Permi pun tidak diperbolehkan mengajar. Kondisi semakin
                                    berat ketika tokoh-tokoh Permi yaitu Muchtar Luthfi, Iljas Jakub dan Djalaludin
                                    Thaib diasingkan ke Digul, Papua. Sebelum masuknya penjajah Jepang mereka
                                    kemudian dipindahkan ke Australia oleh Belanda. Setelah kemerdekaan mereka
                                    kembali ke Indonesia. Muchtar Luthfi menetap di Makasar sementara Iljas Jakub
                                                                                 22
                                    dan Djalaluddin Thaib kembali ke Minangkabau .















                    296
   307   308   309   310   311   312   313   314   315   316   317