Page 311 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 311

Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3







           partai  mengakibatkan  mengeluarkan  kebijakan  keanggotaan  ganda dalam
           partai dan mengeluarkan Muhammadiyah dari  SI pada tahun 1927.                   Berdirinya Partai
                                                                                          Islam Indonesia pada
                                                                                            tahun 1937 juga
           Keluarnya Muhammadiyah dari SI semakin melemahkan posisi SI. SI juga terlibat   semakin melemahkan
           perseteruhan dengan kalangan Persatuan Islam mengenai masalah-masalah          kedudukan SI dalam
                                                                                          gerakan nasional di
           furu’. Demikian pula SI mendapatkan saingan baru ketika pada tahun 1926       Indonesia. Pada tahun
           kelompok Islam tradisional mendirikan organisasi Nahdlatul Ulama. Berdirinya    1938 SI kemudian
                                                                                           bergabung dengan
           organisasi-organisasi Islam lainnya telah membuat polarisasi umat Islam menjadi   organisasi-organisasi
           semakin besar dan menjauhkan SI dari organisasi-organisasi Islam lainnya.     Islam lain dalam wadah
           Pada  tahun  1927  Sukarno  mendirikan  Partai  Nasional  Indonesia  (PNI)  yang   Majelis Islam A’la
           menjadi saingan bagi kedudukan SI dan kepemimpinan Islam dalam pergerakan     Indonesia (MIAI) yang
                                                                                           menjadi cikal bakal
           menuju kemerdekaan Indonesia. Sukarno sendiri pernah menjadi salah satu      berdirinya Majelis Syura
           murid Tjokroaminoto. Karenanya, munculnya PNI menjadikan gerakan di            Muslimin Indonesia
           Indonesia dalam politik terbagi menjadi dua kelompok yaitu nasionalis Islam dan    (Masyumi).
           nasionalis yang netral agama. Perkembangan ini terus berlangsung hingga masa
           kemerdekaan. Berdirinya Partai Islam Indonesia pada tahun 1937 juga semakin
           melemahkan kedudukan SI dalam gerakan nasional di Indonesia. Pada tahun
           1938 SI kemudian bergabung dengan organisasi-organisasi Islam lain dalam
           wadah Majelis Islam A’la Indonesia (MIAI) yang menjadi cikal bakal berdirinya
           Majelis Syura Muslimin Indonesia (Masyumi).




           Partai Muslimin Indonesia


           Partai Muslimin Indonesia disingkat Permi didirikan di Minangkabau pada tahun
           1930 oleh Hadji Iljas Jakub. Tidak lama setelah pendirian Permi Haji Muchtar
           Luthfi bergabung memperkuat partai ini. Iljas mendapatkan pendidikan agama
           di Mekkah dan selanjutnya melanjutkan pelajaran di salah satu universitas di
           Mesir. Di Mesir dia banyak mendapatkan pengalaman politik karena interaksinya
           dengan Hizb al Wathan, sebuah partai politik di Mesir yang didirikan oleh
           Mustafa Kamil. Bahkan Iljas sering terlibat dalam diskusi-diskusi dan rapat-rapat
           kecil yang diadakan oleh partai itu. Di Mesir dia termasuk sosok yang sangat   Permi didirikan atas
           dihormati oleh para mahasiswa Indonesia dan Malaya karena posisinya sebagai     dasar pengamatan
                                                                                           mereka terhadap
           wakil ketua Jami’at al Khairiyah. Haji Muchtar Luthfi  merupakan anak seorang   perkembangan SI di
           ulama besar di Bukittinggi Haji Abdul Latif. Pada pertengahan tahun 1920-     Jawa yang mengalami
                                                                                         polarisasi antara kubu
           an ketika orang-orang yang terlibat dalam politik dicurigai oleh pemerintah   Islam dan kebangsaan.
           kolonial,  Muchtar pergi ke luar negeri untuk menghindari penangkapan. Setelah   Oleh karena itu Permi
           menetap di Malaya kemudian dia memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke        berusaha untuk
           Mesir. Tidak adanya dana yang cukup menyebabkannya tidak dapat mengikuti       menggabungkan dua
                                                                                           kecenderungan itu
           pendidikan formal di universitas di Mesir. Dia memutuskan untuk mengikuti     karena kedua sifat itu
           kegiatan-kegiatan yang diadakan oleh Hizb al Wathan. Di sinilah kemudian dia   tidak dapat dipisahkan
           mendapatkan pengalaman-pengalaman politik dan memperkuat semangatnya          satu sama lain dari diri
                                                                                            seorang Muslim.
           untuk berkontribusi lebih jauh dalam perjuangan kebangsaan di Indonesia .
                                                                                20





                                                                                                 295
   306   307   308   309   310   311   312   313   314   315   316