Page 316 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 316

Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3







                                    sebelumnya tidak bergabung dengan MIAI kemudian ikut bergabung dalam
                                    Masyumi. Masyumi pun memiliki dua keanggotaan yaitu keanggotaan bersifat
                                    organisasi dan perorangan.

                                    Nampaknya ada manfaat yang dirasakan oleh umat Islam atas kehadiran Jepang
                                    yang menggantikan pemerintah Hindia Belanda. Pertama, kehadiran Jepang
                                    telah dapat mengakomodasi kebutuhan umat Islam dalam pemerintahan
                                    dengan dibentuknya Kantor Urusan Agama Islam. Jabatan tertinggi yang
                                    diberikan kepada orang Indonesia oleh pemerintah Jepang adalah jabatan dalam
                                    kantor urusan agama ini. Sejak tanggal 1 Oktober 1944 kantor ini dikepalai oleh
                                    Hoesein Djajadiningrat dan kemudian digantikan oleh seorang kyai kharismatik
                                    dari Jawa Timur yaitu Kyai Hasjim Asj’ari. Pada waktu yang bersamaan Asj’ari
                                    adalah ketua umum Masyumi. Ketika menjabat sebagai kepala kantor urusan
                                    agama ini pekerjaan sehari-sehari lebih banyak dikerjakan oleh anaknya, Wahid
                                    Hasjim, karena Asj’ari lebih banyak menghabiskan waktunya di pesantren di
                                    Jombang daripada di Jakarta.  Sejak 1 April 1944 kantor urusan agama kemudian
           Wahid Hasjim menjabat    dikembangkan di daerah-daerah di setiap keresidenan. Atas kerjasama antara
           sebagai Wakil Ketua Masyumi   Wahid Hasjim dan Kahar Muzakkir dirintislah sebuah Kementrian Agama yang
           mendampingi ayahnya Kyai   memiliki cabang di daerah-daerah dan pada tahun 1950 Wahid Hasjim diangkat
           Hasjim Asj'ari yang menjabat
                                                                                                          29
           sebagai ketua.           sebagai menteri agama dalam kabinet pertama Republik Indonesia Serikat .
           Sumber: Arsip Nasional Republik Indonesia
                                                              Kedua, manfaat dari kehadiran Jepang adalah
                                                              didirikannya organisasi Masyumi. Sebagai organisasi
                                                              yang mewadahi organisasi-organisasi Islam maupun
                                                              individu-individu diharapkan organisasi ini dapat
                                                              secara optimal dapat membantu kegiatan-kegiatan
                                                              propaganda Jepang di Indonesia. Masyumi menjadi
                                                              wadah politik umat Islam di Indonesia dalam upaya
                                                              mencapai tujuan kemerdekaan sementara bagi
                                                              Jepang lebih difokuskan pada sokongan umat
                                                              Islam terhadap pemerintah Jepang. Di Masyumi
                                                              ini kepengurusan terbagi rata antara kubu NU dan
                                                              Muhammadiyah. Kyai Hasjim Asj’ari adalah ketua
                                                              umum pertama yang didampingi oleh anaknya,
                                                              Wahid Hasjim sebagai salah satu wakil ketua.


                                                              Ketiga, manfaat lain dari hadirnya pemerintah
                                                              Jepang yang dirasaka oleh umat Islam adalah
                                                              pendirian organisasi militer yang diberi nama
                                                              Hizbullah.  Masyumi  kemudian  menunjuk  Zainul
                                                              Arifin, salah satu utusan dari NU, untuk menduduki
                                                              sebagai ketua. Pemimpin-pemimpin lain yang
                                                              menduduki jabatan penting dalam Hizbullah adalah
                                                              Muhammad  Roem,  Anwar  Tjokroaminoto,  Jusuf






                    300
   311   312   313   314   315   316   317   318   319   320   321