Page 321 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 321

Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3







           Kelompok  nasionalis  kembali  diuntungkan  dengan dibentuknya Komite
                                                                                             Untuk dapat
           Nasional  Indonesia  Pusat  (KNIP),  sebuah  lembaga  perwakilan  yang  dibentuk   menyalurkan aspirasi
           oleh pemerintah sebelum terbentuknya parlemen hasil pemilihan umum.           umat Islam di tengah-
           Dalam KNIP yang beranggotakan 136 anggota ini, presiden Sukarno hanya           tengah kebijakan
                                                                                           pemerintah yang
           menempatkan 15 anggota yang berasal dari wakil Islam. Jika diteliti lebih lanjut   membuka kesempatan
           di antara 15 orang itu hanya 2 orang saja yang merupakan wakil resmi partai   seluas-luasnya kepada
           Islam yaitu Sjafrudin Prawiranegara dan Wahid Hasjim sementara yang lain         rakyat Indonesia
           merupakan utusan biasa dari kalangan Islam yaitu Abikusno Tjokroaminoto,        untuk membentuk
                                                                                           partai, umat Islam
           Kasman Singodimedjo, Jusuf Wibisono, Dahlan Abdullah, Mohamad Roem, A.R.     mengadakan Muktamar
           Baswedan, A. Bajasut, Harsono Tjokroaminoto dan Ny. Sunarjo Mangunpuspito.        Umat Islam di
                                                                                          Yogyakarta tanggal 7
           Untuk dapat menyalurkan aspirasi umat Islam di tengah-tengah kebijakan        dan 8 November 1945.
           pemerintah yang membuka kesempatan seluas-luasnya kepada rakyat Indonesia     Muktamar ini dihadiri
           untuk membentuk partai, umat Islam mengadakan Muktamar Umat Islam di           oleh hampir seluruh
                                                                                           perwakilan umat
           Yogyakarta tanggal 7 dan 8 November 1945. Muktamar ini dihadiri oleh hampir    Islam dan bersepakat
           seluruh perwakilan umat Islam dan bersepakat mendirikan majelis syura pusat     mendirikan majelis
           bagi umat Islam yang dianggap sebagai satu-satunya partai politik umat Islam   syura pusat bagi umat
           di Indonesia .                                                                 Islam yang dianggap
                      38
                                                                                          sebagai satu-satunya
                                                                                           partai politik umat
           Sejak tahun 1945 kepemimpinan dipegang oleh Sukiman Wirjosandjojo dan           Islam di Indonesia.
           wakilnya Abikusno Tjokrosujoso. Sukiman menjabat sebagai ketua umum
           Masyumi hingga tahun 1951 dan sejak tahun 1949 M. Natsir mendampinginya
           sebagai wakil ketua. Pada kepengurusan tahun 1951 M. Natsir naik menjadi
           ketua umum didampingi sementara Sukiman ditunjuk menjadi wakil ketua.
           Pada tahun 1959 M. Natsir digantikan oleh Prowoto Mangkusasmito sementara
           Sukiman tetap menjadi wakil ketua.

           Masyumi memiliki dua keanggotaan yaitu keanggotaan yang bersifat individu    Masyumi dianggap oleh
           dan organisasi. Keberadaan organisasi dalam Masyumi dianggap penting untuk     Sukarno bersimpati
           berperan sebagai lembaga pemberi nasehat dan pertimbangan atas kebijakan-    dengan pemberontakan
                                                                                              Pemerintah
           kebijakan yang diputuskan oleh partai. Pada awalnya hanya ada empat organisasi   Revolusioner Republik
           yang menjadi anggota partai yaitu Muhammadiyah, NU, Perikatan Umat Islam      Indonesia (PRRI) tahun
           dan Persatuan Umat Islam. Pada tahun 1948 organisasi Islam Persatuan Islam    1958. Pada tahun 1960
           bergabung, disusul organisasi-organisasi lainnya seperti Persatuan Ulama       Masyumi dibubarkan
                                                                                             oleh Sukarno.
           Seluruh Aceh (PUSA) tahun 1949, Al-Irsyad tahun 1950, Al-Jamiyatul Wasliyah    Sementara NU lebih
           dan Al-Ittihadiyah bergabug pada tahun berikutnya. Hubungan istimewa antara     dahulu keluar dari
           Masyumi dan organisasi Islam berlangsung dengan baik namun kemudian            Masyumi pada tahun
                                                                                          1952 dan mendirikan
           mengalami hambatan terutama ketika terjadi perpecahan antara Masyumi dan        partai sendiri yaitu
           Sukarno. Masyumi dianggap oleh Sukarno bersimpati dengan pemberontakan             Partai NU.
           Pemerintah  Revolusioner  Republik  Indonesia  (PRRI)  tahun  1958.  Terjadi
           musyawarah dengan pimpinan partai dengan anggota-anggota istimewa pada
           tanggal 8 September 1959 untuk melepaskan hubungan itu agar organisasi-
           organisasi bersangkutan tidak mendapatkan hambatan dalam kegiatan
           organisasi. Pada tahun 1960 Masyumi dibubarkan oleh Sukarno . Sementara
                                                                        39
           NU lebih dahulu keluar dari Masyumi pada tahun 1952 dan mendirikan partai
           sendiri yaitu Partai NU.





                                                                                                 305
   316   317   318   319   320   321   322   323   324   325   326