Page 323 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 323
Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3
Dalam hal pemikiran politiknya, Perti termasuk partai Islam yang cukup flexible Partai Sarekat
dalam bekerjasama dengan pihak-pihak nasionalis dan komunis. Tidak seperti Islam Indonesia
kaum tradisioalis di Jawa yang menjaga jarak dengan komunis dan cenderung (PSII) sebenarnya
bermusuhan, Perti menunjukkan perilaku politik yang berbeda. Dalam demokrasi merupakan partai yang
terpimpin Perti bersedia bekerja sama dalam kegiatan-kegiatan yang diprakarsai tertua di Indonesia
karena merupakan
oleh PKI dan orang-orang komunis di Cina dan Uni Soviet. Hanya Perti yang transformasi dari
mau mengirimkan utusannya dalam Konperensi Perdamaian Dunia untuk Asia Sarekat Islam yang
dan Pasifik di Beijing pada bulan Oktober 1952. Pimpinan Perti yang cukup berdiri pada tahun
1911. Hanya saja
dikenal dan terus menjabat sampai tahun 1955 karena menjadi satu-satunya sebagaimana yang
perwakilan Perti di parlemen adalah Haji Siradjuddin Abbas . telah dibahas dalam
41
di depan bahwa
SI mengalami
perkembangan
pasang surut yang
menyebabkan
Partai Sarekat Islam Indonesia (PSII) penurunan aktifitas
termasuk merosotnya
peran PSII di era
Partai Sarekat Islam Indonesia (PSII) sebenarnya merupakan partai yang tertua di sebelum kemerdekaan.
Indonesia karena merupakan transformasi dari Sarekat Islam yang berdiri pada
tahun 1911. Hanya saja sebagaimana yang telah dibahas dalam di depan bahwa
SI mengalami perkembangan pasang surut yang menyebabkan penurunan
aktifitas termasuk merosotnya peran PSII di era sebelum kemerdekaan. Agaknya,
paska kemerdekaan PSII kembali kembali menghidupkan kegiatan-kegiatan
politiknya. Hal menarik dari hadirnya kembali PSII dalam perpolitikan nasional
di era kemerdekaan padahal telah ada kesepahaman di antara pemimpin-
pemimpin Islam untuk menjadikan Masyumi sebagai wadah tunggal aspirasi
umat Islam adalah seperti yang disinyalir oleh Deliar Noer bahwa kemunculan Alasan lain keluarnya
42
SI dilatarbelakangi ajakan dari formatir Amir Sjarifuddin untuk membentuk PSII dari Masyumi
kabinet pada tahun 1947. Amir Sjarifuddin ingin menyertakan kelompok dan mendirikan
kembali partainya
Islam dalam kabinetnya tetapi ditolak oleh Masyumi. PSII hadir untuk mewakili adalah karena para
kelompok Islam sebagai partai politik yang kemudian bergabung dalam kabinet pemimpin PSII terutama
Amir Sjarifuddin. Wondoamiseno dan
Arudji Kartawinata
tidak mendapatkan
Alasan lain keluarnya PSII dari Masyumi dan mendirikan kembali partainya posisi penting
adalah karena para pemimpin PSII terutama Wondoamiseno dan Arudji dalam Masyumi
padahal kedua
Kartawinata tidak mendapatkan posisi penting dalam Masyumi padahal kedua tokoh ini termasuk
tokoh ini termasuk figur penting di era sebelum kemerdekaan. Bahkan dalam figur penting di era
MIAI Wondoamiseno pernah menduduki posisi sebagai kepala sekretariat. sebelum kemerdekaan.
Keinginan untuk
Di samping itu tokoh-tokoh PSII pada umumnya kurang setuju dengan sikap mendirikan partai ini
Masyumi tidak tegas dalam perundingan dengan pihak Belanda dalam kabinet kemudian diformalkan
Sjahrir. Perlu diketahui sikap PSII di era menjelang kemerdekaan menunjukkan dalam sebuah
sikap yang non koperatif terhadap pemerintah kolonial Belanda dan tentunya keputusan yang
mengecam sikap lunak Masyumi yang cenderung mengikuti keinginan Belanda diambil dalam sebuah
konperensi nasional
dalam perundingan. Pengalaman PSII di daerah Minangkabau dengan petinggi- partai di Banjarnegara
petinggi Masyumi di daerah itu juga menunjukkan banyak ketidakhormonisan Jawa Barat tanggal 13
karena dominasi kelompok modernis yang begitu kuat, terutama dari kalangan Juli 1947 yang dihadiri
oleh 20 cabang.
Permi dan Muhammadiyah. Atas pertimbangan tidak diakomodasinya
307

