Page 327 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 327

Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3







           umat Islam melihat adanya ketidakadilan ini tidak pernah menuntut adanya
           perubahan. Partai ini walaupun berusaha untuk mendapatkan keadilan itu tetap
           menekankan pentingnya persatuan untuk menjaga kemerdekaan yang baru
           saja diraih oleh bangsa Indonesia. Masyumi juga menolak penerapan sistem
           parlementer dan lebih menyukai sistem presidensiil guna menjamin stabilitas
           politik  dan  persatuan  bangsa  Indonesia.  Sutan  Sjahrir  (Sosialis)  mengusulkan
           kepada KNIP dan Presiden Sukarno untuk menerapkan sistem parlementer.
           Usulan itu disetujui dan diumumkanlah kabinet baru di bawah Sjahrir sejak 14
           November 1945. Dalam kabinet ini hanya ada satu wakil Islam yaitu HM Rasyidi
           dan pada tanggal 3 Januari 1946 Mohammad Natsir diangkat menjadi menteri
           penerangan .
                      45
           Masyumi melalui Natsir terus menyuarakan ketidaksetujuannya terhadap
           perubahan menjadi sistem parlementer karena dianggap melanggar Undang-
           Undang  Dasar.  Menurutnya  sistem  presidensiil  lebih  menjamin  stabilitas
           pemerintahan. Alasan yang mengatakan bahwa perubahan itu dilakukan untuk
           menghilangkan pengaruh orang-orang yang telah bekerjasama dengan Jepang
           dalam pemerintahan juga ditolaknya. Dia beralasan bahwa dalam Kabinet
           Sjahrir juga tetap didominasi oleh elit-elit yang bekerjasama dengan Jepang dan
           juga kolonial Belanda. Baginya, segala perubahan menyangkut Undang-Undang
           Dasar dan kabinet dapat dilakukan hanya setelah proses pemilihan umum dilalui.


           Terhadap kabinet Sjahrir pihak Masyumi menuntut agar dilakukan perombakan
           dengan mendasarkan  pada koalisi di  antar partai-partai  yang ada. Usulan
           Masyumi ini disetujui oleh anggota-anggota KNIP yang lain dan didukung oleh
           partai-partai yang ada. Sukarno pun menanggapinya dengan membubarkan
           kabinet Sjahrir dan membentuk kabinet baru. Dalam kabinet baru ini Sjahrir
           ditunjuk kembali sebagai formatir untuk menyusun kabinet. Pada tanggal 12
           Maret 1946 Sjahrir mengumumkan formasi kabinet II dengan memasukkan
           nama-nama dari partai-partai yang ada. Empat kader Masyumi yaitu M.
           Natsir, Arudji Kartawinata, Sjafruddin Prawiranegara dan HM Rasyidi. Namun
           penunjukkan nama-nama yang mewakili Masyumi di kabinet dianggap tidak
           sepenuhnya mewakili partai karena kabinet yang dibentuk hanya kabinet
           nasional dan bukan kabinet koalisi. Secara umum ketidakpuasan juga banyak
           disuarakan oleh partai-partai lain yang bergabung dalam Persatuan Perjuangan
           yang dipimpin Tan Malaka. Anggota-anggota Persatuan Perjuangan berasal dari
           Pesindo, Barisan Pemberontak, Badan Kongres Pemuda Indonesia dan Partai
           Bangsa Indonesia.

           Masyumi bersama-sama Persatuan Perjuangan terus melakukan kritik
           terhadap kabinet Sjahrir dan menuntut perubahan kabinet. Perselisihan antara
           pemerintah dan kelompok Persatuan Perjuangan semakin memuncak karena
           ketidaksetujuan mereka atas keterlibatan pemerintah dalam perundingan-
           perundingan dengan Belanda. Sjahrir yang berasal dari kelompok Sosialis
           ternyata menunjukkan sikapnya yang lunak terhadap Belanda. Sukarno





                                                                                                 311
   322   323   324   325   326   327   328   329   330   331   332