Page 328 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 328

Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3







                                    melakukan tindakan tegas dengan melakukan penangkapan sejumlah pemimpin
                                    Persatuan Perjuangan, termasuk dua tokoh dari Masyumi. Tindakan pemerintah
                                    ini telah menghancurkan eksistensi Persatuan Perjuangan yang mengakibatkan
                                    organisasi ini pada tanggal 5 Mei 1946 membentuk badan baru yang diberi
                                    nama Konsentrasi Nasional di mana wakil dari Masyumi menjabat sebagai wakil
                                    ketua. Tuntutan pembentukan kabinet koalisi terus dilakukan sebagai upaya
                                    untuk menjamin terbentuknya pemerintah yang stabil .
                                                                                       46

                                    Keadaan yang tidak stabil dan buruknya hubungan antara pemerintah dengan
                                    para pemimpin oposisi yang menyebabkan keadaan darurat memaksa Sukarno
                                    untuk membubarkan Kabinet Sjahrir. Sukarno juga berusaha memulihkan
                                    keamanan dengan mengambil tindakan terhadap unsur-unsur yang terlibat
                                    dalam usaha percobaan perebutan kekuasaan. Menurut keterangan pemerintah
                                    ada kelompok yang memaksa penguasa untuk membubarkan kabinet dan
                                    mengganti kabinet melalui kup. Setelah keamanan kembali normal pada
                                    tanggal 2 Oktober 1946 Sukarno kembali memberikan mandat kepada Sjahrir
                                    untuk menyusun kabinet baru. Dalam kabinet ini enam orang unsur Masyumi
                                    ditunjuk sebagai  menteri yaitu  Mohamad Roem, Jusuf Wibisono,  M. Natsir,
                                    Sjafrudin Prawiranegara, Fathurahman dan Wahid Hasjim. Namun menanggapi
                                    pembentukan kabinet baru ini, Masyumi menyatakan sikapnya bahwa mereka
                                    yang duduk di kabinet bukanlah mewakili Masyumi secara kelembagaan.


                                    Ketika Sjahrir berhasil mengadakan perundingan dengan pihak Belanda
                Ketika Sjahrir
             berhasil mengadakan    dalam perundingan Linggarjati pada tanggal 15 November 1946, partai-
             perundingan dengan     partai yang  ada menolak hasil  perundingan itu.  Masyumi  juga menyatakan
                pihak Belanda       sikap penolakannya yang berakibat pada memanasnya hubungan antara para
              dalam Perundingan
               Linggarjati pada     menteri Masyumi yang duduk di kabinet dengan para pemimpin Masyumi itu
             tanggal 15 November    sendiri. Sebuah konperensi yang diadakan antara Masyumi dan GPII di Solo
              1946, partai-partai   tanggal 4-5 Desember 1946 meminta agar para menteri dari Masyumi segera
              yang ada menolak
             hasil perundingan itu.   keluar dari kabinet. Namun para menteri Masyumi justru menolaknya dengan
              Keadaan yang tidak    mengatakan bahwa keterlibatan mereka di kabinet adalah bersifat nasional
              stabil dan buruknya   bukan koalisi sehingga partai tidak berhak untuk mengatur para anggotanya
               hubungan antara
              pemerintah dengan     yang  berada  dalam  kabinet  nasional.  Penolakan  dari  partai-partai  yang  ada
            para pemimpin oposisi   termasuk Masyumi terhadap hasil perundingan Linggarjati menyebabkan Sjahrir
            menyebabkan keadaan     menyerahkan mandatnya kepada Sukarno tanggal 27 Juni 1947.
              darurat. Penolakan
               dari partai-partai
              yang ada termasuk     Kabinet baru dibentuk di bawah pimpinan Amir Sjarifuddin (Sosialis) dengan
            Masyumi terhadap hasil   mengajak koalisi dengan partai-partai yang ada. Masyumi menuntut posisi
            Perundingan Linggarjati   perdana menteri dan menteri-menteri pertahanan, luar negei serta dalam negeri.
                menyebabkan
             Sjahrir menyerahkan    Terdapat ketidaksepakatan antara Amir Sjarifuddin dengan Masyumi sehingga
              mandatnya kepada      pada tanggal 2 Juli 1947 Amir Sjarifuddin dipilih sebagai perdana menteri dan
              Sukarno tanggal 27    kabinet disusun tanpa keterlibatan Masyumi. Agar ada keterwakilan kelompok
                  Juni 1947.
                                    Islam dalam kabinet ini maka Arudji Kartawinata dan Wondoamiseno diminta
                                    untuk menghidupkan  kembali PSII.  PSII pun akhirnya berdiri  dan kemudian
                                    berkoalisi dalam kabinet Amir Sjarifuddin dengan mendapatkan lima jabatan
                                    kementrian. Masyumi dengan tegas menolak Amir Sjarifuddin karena dia



                    312
   323   324   325   326   327   328   329   330   331   332   333