Page 330 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 330

Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3







                                    Untuk melihat konsfigurasi kekuatan partai-partai Islam dibanding dengan
                                    partai-partai nasionalis ada baiknya untuk melihat hasil suara Pemilu 1955.
                                    Pemilu 1955 ini dianggap sebagai pemilu pertama yang paling demokratis.
                                    PNI sebagai kekuatan partai terbesar sementara Masyumi dan NU menempati
                                    urutan kedua dan ketiga sementara urutan keempat diduduki oleh PKI (Boland,
                                    1985:56). PSII dan Perti hanya merupakan partai-partai kecil saja. Keseluruhan
                                    jumlah suara partai Islam adalah sekitar 43,5%.


                                    Tabel 1 Pemilihan Umum Tahun 1955

                                      Perolehan Suara         Nama Partai
                                      22,3%                   PNI
                                      20,9%                   Masyumi
                                      18,4%                   NU
                                      16,4%                   PKI
                                      2,9%                    PSII
                                      1,3%                    Perti



                                    Karena tidak efektifnya sistem parlementer yang sedang berjalan dan munculnya
            Karena tidak efektifnya   pemberontakan  di  daerah  maka  setelah  Ali  Sastroamidjojo  menyerahkan
              sistem parlementer
             yang sedang berjalan   mandatnya, Sukarno mengeluarkan Undang-Undang Darurat Perang yang
               dan munculnya        memberikan kekuasaan pada militer dan menjadi awal terbentuknya Demokrasi
              pemberontakan di
             daerah maka setelah    Terpimpin pada tahun 1957. Ketika perdebatan dalam konstituante pada
              Ali Sastroamidjojo    tahun 1959 untuk menentukan dasar negara Indonesia mengalami kebuntuan,
                menyerahkan         Sukarno mengambil alih wacana dasar negara dengan mengeluarkan Dekrit
             mandatnya, Sukarno
            mengeluarkan Undang-    Presiden 1959. Dekrit ini berimplikasi pada pembubaran konstituente dan
            Undang Darurat Perang   memaksa kembali pada UUD 1945. Dalam menerapkan Demokrasi Terpimpin,
              yang memberikan       Sukarno  membentuk  Dewan  Perwakilan  Rakyat  Gotong  Royong  (DPR  GR)
               kekuasaan pada       yang anggota-anggotanya ditunjuk langsung. Dia juga membangun konsep
              militer dan menjadi
              awal terbentuknya     “Nasakom” (nasionalis, agama, komunis) dalam pemerintahannya. Pihak Islam
             Demokrasi Terpimpin    diwakili oleh NU dan PSII sementara Masyumi menolak bergabung. Pada tahun
            pada tahun 1957. Pada   1960 Masyumi dinyatakan sebagai partai terlarang sementara para pemimpinnya
             tahun 1960 Masyumi                                                         48
              dinyatakan sebagai    banyak yang ditangkap dan dimasukkan dalam penjara .
               partai terlarang
               sementara para       Keterlibatan komunis dalam pemerintahan menyebabkan militer dan kelompok
             pemimpinnya banyak
             yang ditangkap dan     Islam kurang nyaman dengan Sukarno. Bulan september 1965 merupakan
              dimasukkan dalam      momen yang menentukan di mana Demokrasi yang kacau, radikal dan korup
                   penjara.         mengakhiri kekuasaannya. Sebuah kudeta yang direncanakan oleh Partai Komunis
                                    Indonesia didukung oleh Gerwani dan Pemuda Rakyat dengan menyingkirkan
                                    petinggi angkatan darat melalui penculikan dan pembunuhan. Upaya kudeta
                                    itu berhasil dicegah oleh Mayor Jenderal Soeharto selaku pimpinan Komando
                                    Cadangan Strategis Angkatan Darat (Kostrad) dibantu oleh organisasi-organisasi
                                    Islam. Rencana kudeta yang kemudian dikenal dengan Gerakan 30 September




                    314
   325   326   327   328   329   330   331   332   333   334   335