Page 335 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 335

Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3







           Dewan  Dakwah  Islamiyah  Indonesia  (DDII).  M.  Natsir  dan  Anwar  Haryono
           kemudian terlibat aktif mengembangkan organisasi dakwah yang bermarkas di
           Kramat Raya Jakarta ini.

           Para aktifis DDII secara terus menerus melancarkan kritik-kritik mereka secara
           keras di mimbar-mimbar masjid. Akibatnya rezim Orde Baru semakin represif
           terhadap kelompok Islam. Menurut pendapat Hefner dalam Civil Islam, Islam
           yang menjadi sasaran kebijakan represif rezim Orde Baru adalah Islam politik,
           Islam yang terlembaga melalui kekuatan politik sementara Islam yang berbasis
           kultural tetap mendapatkan tempat di sisi rezim . Sejak berdiri, terutama pada
                                                        53
           dekade 1970-andan 1980-an, DDII terus melakukan kritik kepada pemerintah
           dan sambil membangun basis dakwah di masyarakat. Gerakan dakwah yang
           dimotori oleh DDII ini pada akhirnya mempengaruhi perkembangan dakwah
           di kampus-kampus umum  sejak pertengahan tahun 1980-an. Seorang aktifis
           muda DDII yang juga ketua bidang dakwah PB HMI, Imaduddin Abdurahim,
           membangun  basis dakwah di kampus dan mendirikan Lembaga Mujahid
           Dakwah (LDK). Sejak itu gelombang dakwah di kampus-kampus terus mengalami
           perkembangan pesat.


           Pengalaman Soeharto sebagai komandan militer yang memiliki pengalaman
           di lapangan memberantas pemberontakan-pemberontakan di Indonesia
           menjadikannya sangat berhati-hati dalam menghadapi hadirnya kembali
           kelompok Islam dalam politik dan berusaha mencegah pengaruh kelompok

                                                                                       Gedung Dewan Dakwah
                                                                                       Islamiyah Indonesia (DDII),
                                                                                       Kramat Raya, Jakarta. Lembaga
                                                                                       ini didirikan oleh mantan aktivis
                                                                                       Masyumi pada tangal 9 Mei
                                                                                       1967.
                                                                                       Sumber: Direktorat Sejarah dan Nilai Budaya.






























                                                                                                 319
   330   331   332   333   334   335   336   337   338   339   340