Page 338 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 338
Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3
Gerakan Politik di Era Reformasi
Perkembangan pasca reformasi menunjukkan peran yang lebih signifikan dari
kelompok Islam. Kejatuhan Soeharto pada tahun 1998 disambut antusias oleh
umat Islam terutama bagi mereka yang merasakan penindasan politik di masa
Orde Baru dengan semangat mendirikan partai-partai Islam. Islam kembali hadir
sebagai kekuatan ideologi dengan ditandai oleh lahirnya partai-partai berhaluan
Islam dan kekuatan kultural yang termanifestasi dalam partai-partai sekuler.
Dua partai yang menjadi representasi kelompok Islam dengan menjadikan Islam
sebagai azas partai adalah Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan Partai Persatuan
Pembangunan (PPP). Partai-partai yang berbasiskan masa umat Islam tetapi lebih
pluralis adalah Partai Amanah Nasional (PAN) dan Partai Kebangkitan Bangsa
(PKB), PAN merupakan representasi Islam modernis sementara PKB menjadi
partai yang mewakili kelompok Islam tradisionalis.
Kesadaran umat Islam untuk berkontribusi terhadap bangsa dengan berjuang
melalui partai-partai politik yang ada mencerminkan kesiapan mereka
mendukung penerapan demokrasi di Indonesia. Beberapa partai Islam yang
berdiri di Era Reformasi adalah Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Partai Nahdhatul
Ummah (PNU), Partai Kebangkitan Umat (PKU), Partai Persatuan Pembangunan
(PPP) dan Partai Bulan Bintang (PBB). Sementara beberapa partai yang memiliki
basis umat Islam tetapi berazaskan Pancasila adalah Partai Kebangkitan Bangsa
(PKB), Partai Amanah Nasional (PAN) dan Partai Daulat Umat (PDU).
Meskipun mengklaim sebagai partai Islam baik PKS dan PPP tidak lagi
memfokuskan pada agenda ideologi Islam dan formalisasi syariah tetapi lebih
memperkuat agenda pada pemenuhan aspirasi rakyat secara umum. Mereka ini
memungkinkan untuk bersatu ketika menghadapi agenda-agenda umat Islam
di Indonesia walaupun berasal dari partai-partai yang berbeda karena komitmen
mereka kepada aspirasi umat Islam sangat kuat. Ini dikarenakan banyaknya
aktifis-aktifis Islam yang menjadi pengurus dan pimpinan di partai-partai non
Islam.
Golkar dalam waktu yang sangat panjang sejak tahun 1980-an, pimpinan
terasnya banyak diisi oleh para mantan aktivis Islam. Tokoh HMI yang pernah
menjabat sebagai ketua umum Golkar adalah Akbar Tanjung. Di samping itu
sejak berdirinya ICMI sebagian besar pengurus Golkar juga berasal dari organisasi
ICMI. Sukses kelompok Islam di Golkar adalah ditandai dengan dijadikannya
BJ Habibie, ketua umum pertama ICMI, sebagai wakil presiden mendampingi
Soeharto (1997) dan diangkat sebagai presiden menggantikan Soeharto (1998).
322

