Page 342 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 342
Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3
Partai Kebangkitan Bangsa (PKB)
Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) adalah partai kaum nahdliyin yang didirikan
Setelah beberapa para era Reformasi. Setelah beberapa dekade NU menjaga jarak dengan politik
dekade NU menjaga praktis karena mengikuti keputusan khittah 1926, NU akhirnya memandang
jarak dengan politik
praktis karena perlu untuk memiliki partai sendiri guna menyuarakan aspirasi umat Islam yang
mengikuti keputusan berfaham ahlus sunna wal jamaah. Pemikiran keagamaan yang mengikuti
khittah 1926, NU mazhab Syafi’i melekat dengan praktik keagamaan yang dijalankan oleh NU.
akhirnya memandang
perlu untuk memiliki
partai sendiri guna Tidak lama setelah Soeharto mengundurkan diri dari jabatan presiden RI, NU
menyuarakan aspirasi yang telah lama mengalami masa-masa penuh kooptasi politik rezim Soeharto
umat Islam yang
berfaham ahlus sunna menyambutnya pelengseran itu dengan antusias. Para pengurus yang duduk di
wal jamaah. PBNU mengusulkan untuk membuat wadah politik bagi warga NU. Tidak hanya
hampir mayoritas pengurus di daerah-daerah mendorong PBNU agar memfasilitas
pendirian partai politik. Bahkan beberapa aktifis NU sudah melangkah lebih jauh
dengan mengadakan berbagai pertemuan untuk mempersiapkan pendirian
partai yang membawa aspirasi umat nahdliyin itu. Melihat usulan yang begitu
besar dari daerah-daerah, PBNU akhirnya berusaha untuk menangkap aspirasi
yang sepertinya tidak dapat dibendung lagi. Bahkan usulan-usulan nama partai
pun telah disampaikan oleh berbagai elemen NU itu hampir mencapai 39 nama
partai. Realitas ini menunjukkan betapa besarnya kemajemukan dan semangat
warga NU untuk berpartai.
Tentu saja untuk merespon keinginan-keinginan yang berkembang itu, PBNU
berusaha untuk mengakomodasinya dengan tidak melanggar prinsip khittah yang
sudah mapan dalam organisasi NU. Melalui rapat harian Syuriah dan Tanfidziyah
Lambang Partai Kebangkitan
Bangsa (PKB). Pada tanggal PBNU tanggal 3 Juni 1998, PBNU membentuk Tim Lima yang bertugas untuk
23 Juli 1998 bertempat di merealisasikan aspirasi warga NU. Tim Lima itu terdiri dari K.H. Makruf Amin
rumah Gus Dur di Ciganjur, (ketua), K.H. Dawam Anwar, Dr. K.H. Said Agil Siradj, H.M. Rozy Munir dan H.
Jakarta Selatan, pendirian PKB
dideklarasikan. Ahmad Bagdja. Atas dukungan penuh dari PBNU, Tim Lima dalam tugasnya
Sumber: Direktorat Sejarah dan Nilai Budaya. dibantu oleh tim asistensi yang terdiri dari Arifin Junaidi (ketua), H.
Muhyidin Aburusman, H.M. Fachri Thaha, H.M. Nashihin Hasan, H.
Andi Muarly Sunrawa, H. Abdul Aziz, MA, H Lukman H. Saifuddin,
Drs Amin Said Husni dan Muhaimin Iskandar. Tim yang dibentuk
oleh PBNU terus bekerja hingga pada akhirnya dapat menyelesaikan
tugasnya dengan merekomendasikan mendirikan partai yang diberi
nama Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Pada tanggal 23 Juli 1998
bertempat di rumah Gus Dur di Ciganjur, Jakarta Selatan, sebuah
partai yang lahir dari rahim NU dideklarasikan.
Meskipun PBNU telah membidani lahirnya PKB tetapi bukan berarti
tidak ada partai-partai berbasis massa NU lainnya yang berdiri. Tidak
lama setelah PKB dideklarasikan PKB berturut-turut bermunculan
berbagai partai yang juga mewakili aspirasi kelompok nahdliyin.
Partai-partai itu adalah Partai Nahdlatul Ulama (PNU) dibentuk
326

