Page 329 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 329
Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3
adalah seorang muslim yang telah masuk Kristen ketika pada masa sebelum
kemerdekaan. Dia juga bekerjasama dengan Belanda saat Jepang masuk
47
menguasai Indonesia .
Ketika terjadi perombakan kabinet Amir Sjarifuddin tanggal 13 November
1947, Masyumi bersedia masuk dalam kabinet koalisi dan menempatkan
kader-kadernya (Samsudin, M. Roem, KH. Masjkur dan Kasman Singodimejo)
Ketika terjadi
duduk dalam kabinet. Namun pada tanggal 16 Januari 1948 Masyumi menarik perombakan kabinet
kader-kadernya karena penolakannya terhadap perundingan Renville yang Amir Sjarifuddin
banyak menguntungkan pihak Belanda. PNI dan golongan Sjahrir juga menolak tanggal 13 November
1947, Masyumi
kebijakan Amir Sjarifuddin sehingga menyebabkan kabinet ini dibubarkan. bersedia masuk dalam
Pada tanggal 29 Januari 1948 dibentuklah kabinet baru yang dipimpin oleh kabinet koalisi dan
M. Hatta. Hatta mengajak Masyumi dan PNI untuk berkoalisi membangun menempatkan kader-
kabinet yang kuat sehingga kabinet Hatta ini termasuk kabinet yang relatif lama kadernya (Samsudin, M.
Roem, KH. Masjkur dan
bertahan pada masa revolusi (1949). Kabinet Hatta ini menghadapi beberapa Kasman Singodimejo)
pemberontakan lokal yaitu pemberontakan PKI di Madiun tahun 1948 dan duduk dalam kabinet.
pemberontakan Darul Islam di Jawa Barat. Masyumi berperan aktif dalam Namun pada tanggal
16 Januari 1948
melakukan negosiasi guna memadamkan pemberontakan-pemberontakan Masyumi menarik
itu. Ketika agresi militer Belanda dilancarkan pada tanggal 19 Desember 1948 kader-kadernya
karena penolakannya
semua kota penting di Jawa dan Sumatera dikuasai Belanda, Sukarno, M. Hatta terhadap perundingan
dan M. Natsir pun ditangkap. Pada masa ini rakyat Indonesia yang sebelumnya Renville yang banyak
terlibat konflik politik bersatu kembali. Dalam kondisi yang genting ini menguntungkan pihak
pimpinan Masyumi, Sjafruddin Prawiranegara bersama rakyat berinisiatif untuk Belanda.
mendirikan pemerintahan pusat darurat di pedalaman Sumatera Barat lengkap
dengan menteri-menterinya. Dengan berdirinya pemerintahan pusat darurat ini
maka keberlangsungan Republik Indonesia terus dapat dipertahankan. Setelah
Sukarno dan Hatta kembali ke Yogyakarta, Sjafruddin segera mengembalikan
mandatnya kepada pemerintah pusat. Dalam perundingan Roem Royen ini
Masyumi juga telah menunjukkan kontribusi besarnya dalam menyelamatkan
Indonesia dari rongrongan Belanda.
Perjalanan berikutnya dari tahun 1950-1957 ditandai dengan jatuh bangunnya
kabinet karena banyaknya partai yang masing-masing tidak berkuasa secara
mayoritas. Partai yang dominan adalah PNI, Masyumi dan PKI. Ketika NU
keluar dari Masyumi pada tahun 1952 kekuatan Masyumi mulai berkurang
walaupun pada pemilu 1955 masih menempati urutan kedua partai terbesar.
Dukungan kepada kabinet yang terbentuk setelah tahun 1950 terus diberikan
oleh Masyumi ditandai dengan bergabungnya dalam kabinet Hatta (1950-
1951). Pada tahun 1951-1952 kabinet dipegang oleh M. Natsir dan kemudian
digantikan oleh Sukiman. Pada kabinet berikutnya kabinet dipegang oleh PNI di
bawah pimpinan Wilopo (1952-1953) dan dilanjutkan oleh Ali Sastroamidjojo
juga dari PNI (1953-1955). Setelah pemilu 1955 Masyumi kembali menguasai
kabinet dengan menjadikan Boerhanudin Harahap (1955-1956) sebagai perdana
menteri. Kabinet Boerhanudin Harahap juga tidak betahan lama, sehingga
mandat diserahkan kembali dan terpilih kembali Ali Sastroamidjojo sebagai
perdana menteri (1956-1957).
313

