Page 324 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 324
Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3
pemimpin-pemimpin PSII secara proporsional dalam
kepemimpinan Masyumi maka sebagian besar
cabang-cabang PSII mendorong pimpinan pusat
untuk mendirikan sendiri sebuah partai. Keinginan
untuk mendirikan partai ini kemudian diformalkan
dalam sebuah keputusan yang diambil dalam
sebuah konperensi nasional partai di Banjarnegara
Jawa Barat tanggal 13 Juli 1947 yang dihadiri oleh
20 cabang.
Namun demikian, setelah keluar dari Masyumi tahun
1947 pimpinan pusat PSII memberikan klarifikasi
kepada umat Islam bahwa PSII tidak memiliki
konflik dengan Masyumi dan bergabungnya PSII
dengan kabinet Sjahrir semata-mata merupakan
tanggung jawab partai terhadap negara. PSII tetap
berkomitmen untuk menjaga keberlangsungan
negara Indonesia dan persatuan umat Islam,
umumnya bangsa Indonesia. Pada tahun 1960
PSII bubar karena pertikaian yang akut di kalangan
pemimpin-pemimpin mereka. Tercatat pada saat
pembentukan Kabinet Ali Sastroamidjojo pada
tahun 1953, Abikusno dipecat dari kepemimpinan
partai dan digantikan oleh kepemimpinan Arudji
Kartawinata-Anwar Tjokroaminoto. Namun demikian
Majalah Mepsi (Madjlis Ekonomi Abikusno tetap bertahan dengan mendirikan PSII
PSII) merupakan keluaran Partai tandingan yang banyak didukung oleh PSII cabang
Sarekat Islam INdonesia. Sumatera Selatan. Alasan pemecatan itu adalah karena keterlibatan Abikusno
Sumber: Perpustakaan Nasional dalam Kabinet Ali Sastroamidjojo tidak dikonsultasikan dengan partai.Dualisme
kepemimpinan Abikusno dan Arudji-Anwar tidak dapat didamaikan hingga
mengakibatkan pada keterpurukan partai padahal sebenarnya PSII memiliki
basis yang kuat yaitu di Jawa, Sumatera Selatan, Lampung, Sulawesi Utara
dan Aceh. Dalam perkembangan berikutnya PSII selalu dirundung perpecahan
internal yang mengakibatkan kemunduran partai .
43
Nahdlatul Ulama (NU)
Pada awalnya Nahdlatul Ulama (NU) diawal-awal pendiriannya pada tahun 1926
merupakan organisasi yang bergerak di bidang sosial keagamaan. Basis utama
dari organisasi ini adalah jaringan pesantren yang tersebat di Jawa Timur, Jawa
Tengah, Banten, dan Kalimantan Selatan. Di Jawa Barat NU memiliki basis di
daerah Cirebon dan Tasikmalaya. Secara umum NU memilik kultur sama dengan
Persatuan Tarbiyah Islamiyah (Perti) dan Partai Sarekat Islam Indonesia (PSII).
308

