Page 325 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 325

Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3







           Di awal pendirian Masyumi tokoh-tokoh NU menduduki posisi penting             Setelah masa Revolusi
           di organisasi ini yaitu Hasjim Asj’ari yang pernah menjabat sebagai ketua        berakhir mulai
           umum. Perjuangan politik NU mulai nampak terutama pada masa Revolusi             ada kekecewaan
           ketika pimpinan tertinggi NU mengeluarkan fatwa tentang seruan untuk              NU terhadap
                                                                                            perkembangan
           mempertahankan tanah air. Fatwa dari Hasjim Asj’ari yang berisikan tentang     Masyumi. Masyumi
           kewajiban bagi setiap muslim Indonesia untuk mempertahankan kemerdekaan          dianggap telah
           Indonesia ini kemudian lebih dikenal dengan sebutan Resolusi Jihad. Di masa     menggeser peran
                                                                                           majelis syuro yang
           revolusi NU mengambil sikap yang lebih frontal terhadap Belanda sehingga      strategis menjadi suatu
           bertentangan dengan pemerintah yang cenderung lunak dalam perundingan-         lembaga yang hanya
           perundingan Renville dan Linggarjati. Pada era ini hubungan NU dengan           berfungsi sebagai
           Masyumi  masih serasi  karena adanya pengakuan  NU bahwa Masyumi tetap        penasehat. Atas dasar
                                                                                          ketidakpuasan dalam
           merupakan satu-satunya partai bagi umat Islam yang harus dihormati.           menyikapi perubahan
                                                                                         struktur Masyumi yang
                                                                                         demikian itu akhirnya
           Namun demikian setelah masa Revolusi berakhir mulai ada kekecewaan NU            NU menyatakan
           terhadap perkembangan Masyumi. Masyumi dianggap telah menggeser peran          keluar dari Masyumi
           majelis  syuro  yang  strategis  menjadi  suatu  lembaga  yang  hanya  berfungsi   dan mendirikan
           sebagai penasehat. Pergeseran ini dipahami NU sebagai upaya untuk menjadikan    partai sendiri yang
                                                                                             independen.
           Masyumi semata-mata sebagai organisasi politik dan kurang memperhatikan
           aspek agama karena tidak memberikan posisi penting kepada para ulama.
           Atas dasar ketidakpuasan dalam menyikapi perubahan struktur Masyumi yang
           demikian itu akhirnya NU menyatakan keluar dari Masyumi dan mendirikan
           partai sendiri yang independen.

           Nampaknya keluarnya NU dari Masyumi didasarkan pada ketidakpuasan NU
           atas  ketidakadilan  yang  mereka  rasakan  dalam setiap  pembahasan kabinet
           pemerintahan. NU yang merupakan organisasi besar di Indonesia melihat
           bahwa selama ini representasi NU di kabinet yang didukung oleh Masyumi tidak
           seimbang. Tidak dapat dipungkiri bahwa dukungan terbesar Masyumi adalah
           berasal dari Muhammadiyah dan NU. Namun dalam setiap pembentukan
           kabinet, Muhammadiyah selalu diwakili minimal dua orang, tetapi NU tidak
           pernah diwakili oleh lebih dari satu orang. Oleh karena itu Kyai Wahab Hasbullah
           mengajukan tuntutan kepada Masyumi dalam pembentukan kabinet Wilopo
           jabatan menteri agama tetap diberikan kepada NU. Kyai Wahab juga mengancam
           apabila tuntutan itu tidak dipenuhi maka NU dan berjuang dengan cara-cara
           tersendiri terlepas dari Masyumi. Namun tuntutan yang ditanggapi sebagai
           ancaman oleh  sebagian besar pimpinan  Masyumi  itu tidak  dapat  dipenuhi.
           Keputusan tentang menteri agama akan diputuskan secara voting melibatkan
           semua pengurus partai. Hasilnya, pimpinan partai akhirnya menyepakati untuk
           menetapkan Kyai Haji Fakih Usman dari Muhammadiyah untuk menjadi calon
           menteri agama yang nantinya akan diusulkan kepada formatir Wilopo. Wilopo
           pun menyetujui usulan Masyumi dan mengangkat Fakih Usman sebagai menteri
           agama. Untuk mensikapi perkembangan yang tidak menguntungkan ini,
           pada tanggal 5 April 1952 dalam rapat Pengurus Besar NU di Surabaya, NU
           menyatakan keluar dari Masyumi .
                                          44






                                                                                                 309
   320   321   322   323   324   325   326   327   328   329   330