Page 318 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 318

Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3







                                    Masykur  (NU),  KH  Mas  Mansyur  (Muhammadiyah),  Abdoel  Kahar  Muzakkir
              Tidaklah berlebihan
             apabila di akhir masa   (Muhammadiyah),  Raden  Rooslan  Wongsokoesoemo  (Masyumi),  Haji  Agus
             kekuasaan Jepang di    Salim (Penyadar PSII), Raden Syamsudin (PUI), Sukiman (PII), KH Wahid Hasjim
            Indonesia, pemerintah   (NU), Ny. Sunarjo Mangunpuspito (Aisyiyah), Abdul Rahman Baswedan (PAI), dan
             Jepang lebih condong   Abdul Rahim Pratalykrama (residen Kediri, santri). Ketika keanggotaan BPUPKI
              untuk memberikan
            prioritas kepemimpinan   diperluas dengan menambahkan 28 orang lagi anggota, hanya ada dua orang
              nasional Indonesia    dari perwakilan kelompok Islam yaitu Pangeran Mohammad Noor (Masyumi)
              kepada kelompok                                  33
             nasionalis dibanding   dan Haji Abdul Fatah Hassan . Sebagian besar dari perwakilan-perwakilan Islam
               dengan kepada        berasal dari golongan tua dan termasuk tokoh-tokoh kharismatis tetapi memiliki
              kelompok Islam. Ini   kekurangan dari sisi organisasi. Pemikiran-pemikiran politik mereka secara
               dapat dibuktikan     umum lebih bersifat praktis bukan teoritis padahal lembaga BPUPKI kerjanya
            dengan perkembangan-
                perkembangan        lebih banyak mengenai dasar falsafah dan ideologi negara Indonesia yang
                berikutnya di       merdeka. Karenanya, dalam forum ini para pemimpin Islam harus berhadapan
              mana peran politik    dengan dua kelompok besar yang dominan yaitu kelompok nasionalis yang
               nasional di masa
              kemerdekaan lebih     netral agama dan kelompok kebudayaan Jawa yang juga berpengaruh.
            banyak didominasi oleh
              kelompok nasioalis    Nampaknya keterwakilan kelompok nasionalis sekuler dalam dua forum penting
              dibanding dengan
               kelompok santri.     itu jauh lebih besar. Tidaklah berlebihan apabila di akhir masa kekuasaan Jepang
                                    di Indonesia, pemerintah Jepang lebih condong untuk memberikan prioritas
                                    kepemimpinan nasional Indonesia kepada kelompok nasionalis dibanding
                                    dengan kepada kelompok Islam. Ini dapat dibuktikan dengan perkembangan-
                                    perkembangan berikutnya di mana peran politik nasional di masa kemerdekaan
                                    lebih banyak didominasi oleh kelompok nasioalis dibanding dengan kelompok
                                    santri.


                                    Paling tidak di samping manfaat-manfaat yang dirasakan oleh umat Islam pada
                                    masa pendudukan Jepang, ada dua aspek penting yang perlu digarisbawahi dalam
                                    kaitannya dengan perkembangan politik di Indonesia. Pertama, berkembangnya
                                    pemikiran baru dalam perjuangan umat Islam bahwa partai politik merupakan
                                    alat penting bagi pemerintah untuk menyampaikan kepentingan-kepentingan
                                    pemerintah. Kedua, adanya agenda pemerintah pada waktu itu untuk
                                    menjadikan militer sebagai kekuatan dominan dibanding dengan kekuatan sipil.
                                    Karenanya, secara umum hanya partai-partai yang sesuai dengan kebijakan-
                                    kebijakan pemerintah saja yang diperbolehkan berkembang dan mereka diberi
                                    tugas menggalang kekuatan massa untuk mendukung pemerintah Jepang .
                                                                                                          34

                                    Bisa dikatakan menjelang kemerdekaan hampir di semua bidang, kepemimpinan
                                    umat Islam tidak sebesar dibandingkan dengan kepemimpinan kelompok
                                    nasionalis  yang netral  agama maupun tidak  suka agama  menjadi kekuatan
                                    politik.  Keberadaan  MIAI  dan  berganti  dengan Masyumi  sebagai wadah
                                    berkumpulnya pemimpin-pemimpin Islam ternyata belum memiliki peran
                                    penting sebagaimana yang diharapkan. Kesediaan pemimpin umat Islam untuk
                                    bekerjasama dalam masa pemerintah Jepang ternyata tidak berdampak dalam
                                    hal meningkatkan posisi mereka di hadapan para pemimpin nasioalis di era-era
                                    menjelang kemerdekaan Indonesia.





                    302
   313   314   315   316   317   318   319   320   321   322   323