Page 313 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 313
Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3
Partai Islam Indonesia
Partai Islam Indonesia didirikan atas kekecewaan beberapa aktifis Islam terhadap Partai Islam Indonesia
konflik internal yang terjadi di tubuh Partai Sarekat Islam Indonesia. Pada tahun didirikan atas
1930 Partai Sarekat Islam diganti menjadi Partai Sarekat Islam Indonesia. SI kekecewaan beberapa
sendiri kemudian terpecah menjadi beberapa partai kecil seperti kelompok aktifis Islam terhadap
konflik internal yang
Penyadar dan Komite Kebenaran PSII. Kepemimpinan Tjokroaminoto dan Agus terjadi di tubuh Partai
Salim (menggantikan Moeis) tidak efektif lagi karena masalah kesehatan. Pada Sarekat Islam Indonesia.
tahun 1933 dilakukan perubahan terhadap struktur dan dasar partai dimana Pada tahun 1930 Partai
Sarekat Islam diganti
struktur pimpinan pusat dibagi dua; pertama, Dewan Partai yang berfungsi menjadi Partai Sarekat
sebagai dewan pembina (Majelis Tahkim) dan kedua Lajnah Tanfidziyah yang Islam Indonesia.
mengurusi kegiatan harian partai. Urusan-urusan harian diserahkan kepada
pemimpin-pemimpin yang lebih muda sementara Majelis Tahkim yang terdiri
dari pemimpin-pemimpin senior mengawasinya. Namun demikian kaderisasi
kepemimpinan tidak terjadi dengan baik ditandai dengan konflik internal dalam
hal kepemimpinan partai. Akibatnya Sukiman dan Surjopranoto yang dianggap
memiliki kemungkinan persaingan kepemimpinan menerima pemecatan.
Agus Salim sendiri yang memiliki posisi penting dalam partai tidak secara
otomatis menggantikan Tjokroaminoto yang meninggal tahun 1934 karena
kedudukan Tjokroaminoto digantikan oleh saudaranya yang bernama Abikusno
Tjokrosujoso.
Secara umum pemecatan terhadap Sukiman pada tahun 1933 telah menyebabkan
kecaman dari berbagai kalangan. Pengurus-pengurus cabang di daerah-daerah Orang-orang dalam
meminta pimpinan partai agar meninjau ulang keputusan pemecatan itu atau tubuh PSSi yang tidak
setuju dengan
paling tidak melakukan referendum untuk melihat keabsahan kebijakan yang Sukiman dan
dikeluakan oleh partai. Mereka yang tidak setuju dengan pemecatan kemudian Surjopranoto
membuat kelompok baru yang diberi nama Persatuan Islam Indonesia yang membentuk kelompok
baru yang diberi
mendasarkan kegiatannya pada dasar Islam, nasionalisme dan swadaya. nama Persatuan
Persatuan Islam Indonesia terus menggalang dukungan dengan PSII Cabang Islam Indonesia
yang mendasarkan
Yogyakarta selanjutnya secara bersama-sama membentuk Partai Islam Indonesia kegiatannya pada dasar
(Partii). Islam, nasionalisme dan
swadaya. Persatuan
Islam Indonesia terus
Pada pertengahan tahun 1930-an pemimpin-pemimpin dari Partai yaitu menggalang dukungan
Sukiman, Wali Alfatah dan beberapa pemimpin Muhammadiyah di bawah dengan PSII cabang
pimpinan Kyai Haji Mas Mansur memberikan masukan kepada Partai Sarekat Yogyakarta selanjutnya
Islam agar mengubah politik hijrah yang dianggap terlalu ketat dan menjadi secara bersama-sama
membentuk Partai
penghambat utama partai dalam mencapai tujuannya. Demikian juga para Islam Indonsia (Partii)
pemimpin ini juga mengusulkan agar Sarekat Islam hanya mengurusi masalah-
masalah politik saja dan tidak terlibat urusan-urusan keagamaan, sosial dan
pendidikan karena urusan-urusan itu telah ditangani oleh organisasi-organisasi
Islam yang ada pada waktu itu. Tuntutan agar tindakan pendisiplinan kepada
Muhammadiyah juga dilontarkan tetapi tidak mendapatkan tanggapan positif
dari pemimpin pusat SI.
297

