Page 310 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 310

Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3







                                    Memang sebelum lahirnya politik hijrah, SI menggencarkan mosi-mosi untuk
              Kelompok Komunis      disampaikan di Dewan sebagai saluran untuk memperjuangkan suara rakyat
               berusaha untuk
                mempengaruhi        pada waktu itu. Tuntutan yang diajukan kepada pemerintah Hindia Belanda
             organisasi-organisasi   adalah agar kesempatan pengajaran bagi rakyat Indonesia diperluas agar mereka
               lain termasuk SI     dapat sejajar dengan bangsa Eropa . Mosi-mosi ini dilakukan agar rakyat
                                                                       18
              untuk mendukung
              pergerakan rakyat     Indonesia tidak menempuh cara-cara radikal karena kemarahannya kepada
              yang dimotori oleh    pemerintah Belanda. Mengingat pengaruh dari Semaun yang menginginkan
             pihak Komunis.  Pada   perjuangan yang lebih radikal dan tidak kompromi telah membuat perpecahan
             Kongres di Surabaya
            tahun 1921 mendukung    di kalangan Sarekat Islam. Walaupun pada akhirnya kebijakan non koperatif
             untuk mengeluarkan     ditempuh setelah Volksraad tidak lagi mengakomodasi kepentingan SI. Melalui
             orang-orang Komunis    kongresnya di Madiun pada tanggal 17-20 Februari 1923 SI secara resmi
             dari SI. Keberhasilan
            SI melepaskan diri dari   melembagakan  tujuan-tujuan  politiknya  dengan  merubah  namanya  menjadi
                                                      19
              pengaruh komunis      Partai Sarekat Islam .
             dan aliran-aliran lain
             yag tidak sepenuhnya
              berlandaskan Islam    Agaknya kelompok Komunis berusaha untuk mempengaruhi organisasi-
            menguatkan kelompok     organisasi lain termasuk SI untuk mendukung pergerakan rakyat yang dimotori
                Islam reformis      oleh pihak Komunis itu. Abdul Moeis menganggap bahwa kehadiran kelompok
               dalah tubuh SI. SI
              menjalin hubungan     Komunis sengaja dikirim oleh Belanda untuk memecah gerakan rakyat. Pertikaian
              yang kuat dengan      dengan Semaun semakin meningkat ketika golongan komunis menunjukkan
               Muhammadiyah         ketidakpercayaan kepada kepemimpinan Tjokroaminoto. Pihak kepemimpinan
               ditandai dengan
             didirikannya sebuah    yang menolak pengaruh Partai Komunis Indonesia (PKI) di tubuh SI melakukan
            organisasi kepemudaan   usaha-usaha untuk menghilangkan pengaruh komunis itu. Pada Kongres di
               Islam yaitu Jong     Surabaya tahun 1921 mendukung untuk mengeluarkan orang-orang Komunis
             Islamieten Bond (JIB)   dari SI.
               pada tahun 1925.

                                    Pertumbuhan komunis di SI ini telah menyebabkan melemahnya organisasi
                                    karena adanya perpecahan kelompok yang pro dan anti komunis. Perpecahan
                                    juga disebabkan oleh pertentangan dengan pemikiran lain yang tumbuh di SI
                                    yaitu dari kalangan aliran Kejawen dan nasionalisme radikal. Namun demikian
                                    keberhasilan SI melepaskan diri dari pengaruh komunis dan aliran-aliran lain
                                    yag tidak sepenuhnya berlandaskan Islam menguatkan kelompok Islam reformis
                                    dalam tubuh SI. SI menjalin hubungan yang kuat dengan Muhammadiyah
                                    ditandai dengan didirikannya sebuah organisasi kepemudaan Islam yaitu Jong
                                    Islamieten Bond (JIB) pada tahun 1925. JIB kemudian banyak melahirkan tokoh-
                                    tokoh  di  masa  depan yang  kemudian  aktif  menyokong  Masyumi  di pentas
                                    nasional.


                                    Hanya saja kerjasama ini tidak berlangsung setelah pemerintah Hindia Belanda
                                    atas saran Snouck Hurgronje menjalankan kebijakan politik Islam yang mendorong
                                    kegiatan umat Islam di bidang keagamaan dan sosial dan mengawasi secara ketat
                                    kegiatan politik. Akibatnya SI yang menerapkan politik non koperatif berselisih
                                    dengan Muhammadiyah yang cenderung bekerjasama dengan pemerintah
                                    karena beberapa kegiatan Muhammadiyah mengandalkan bantuan subsidi dari
                                    pemerintah kolonial. Sikap Muhammadiyah yang menolak mengikuti kebijakan






                    294
   305   306   307   308   309   310   311   312   313   314   315