Page 314 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 314
Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3
Atas dasar penolakan usulan-usulan di atas itu para para pemimpin yang
Para pemimpin
Partii kemudian tergabung dalam Partii mulai memikirkan suatu partai politik baru. Mereka
bergabung dalam mendapatkan saluran yang tepat dengan bergabung dalam sebuah kelompok
sebuah kelompok studi di Yogyakarta, Islam Study Club, yang dipimpin oleh Ahmad Kasmat. Pada
studi di Yogyakarta, tanggal 4 Desember 1938 akhirnya mereka sepakat untuk mendirikan Partai
Islam Study Club,
yang dipimpin oleh Islam Indonesia (PII) dengan mengangkat Raden Wiwoho, bekas ketua umum
Ahmad Kasmat. Pada JIB yang juga anggota Volksraad untuk menjadi ketua umum PII. Tokoh-tokoh
tanggal 4 Desember Muhammadiyah banyak menguasai kepemimpinan pusat dalam PII sementara
1938 akhirnya mereka
sepakat untuk kepemimpinan di daerah Priangan cabang-cabangnya dikuasai oleh tokoh-
mendirikan Partai Islam tokoh Persis dan daerah-daerah di Sumatra dipimpin oleh tokoh-tokoh Permi.
Indonesia (PII) dengan Keterlibatan tokoh-tokoh Muhammadiyah dalam PII mendapatkan sorotan dari
mengangkat Raden
Wiwoho, bekas ketua Muhammadiyah sendiri yang menginginkan Muhammadiyah bersifat netral
umum JIB yang juga kepada partai-partai yang ada tetapi tidak sedikit pula yang mendukung karena
anggota Volksraad keterlibatan itu bersifat pribadi bukan mengatasnamakan Muhammadiyah
23
untuk menjadi ketua
umum PII. Dukungan Dukungan dari beberapa daerah cukup kuat sehingga dalam waktu singkat PII
dari beberapa daerah telah memiliki cabang di luar Jawa seperti di Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi.
cukup kuat sehingga
dalam waktu singkat PII
telah memiliki cabang Secara umum PII mendukung kebijakan koperatif dan mendorong anggota-
di luar Jawa seperti di anggotanya untuk duduk di lembaga-lembaga perwakilan yang ada. PII juga
Sumatera, Kalimantan menghendaki negara yang demokratis, perluasan hak-hak politik, kemerdekaan
dan Sulawesi.
berpendapat dan kemerdekaan pers. PII juga memutuskan untuk bergabung
dengan MIAI guna mewujudkan persatuan dalam memperjuangkan
kemerdekaan Indonesia. Hanya saja pada saat menjelang kedatangan Jepang ke
Indonesia, para pimpinan PII yaitu Ahmad Kasmat, Faried Ma’ruf dan Haji Abdul
Kahar Muzakkir ditangkap oleh Belanda dengan tuduhan bersimpati dengan
Jepang.
Perjuangan politik umat Islam di Indonesia mengalami perubahan besar setelah
Meskipun sulit diukur pendudukan Jepang di Indonesia di mana Jepang memberikan kebebasan
kesungguhan mereka
dalam mendukung kepada umat Islam untuk mendirikan organisasi-organisasi politik. Apabila pada
Jepang dan maksud masa pemerintahan kolonial Belanda umat Islam yang bergerak di bidang politik
Jepang itu sendiri selalu mendapatkan pengawasan maka pemerintah Jepang justru melakukan
dalam mendukung
tokoh-tokoh Islam kebijakan yang berbeda. Pemimpin-pemimpin Islam dirangkul bersama-sama
namun realitas ini tentu dengan pemerintah Jepang untuk mengisi kepemimpinan politik Indonesia.
tidak bisa diabaikan Belanda menjadikan Islam yang hadir dalam bentuk doktrin politik baik dalam
begitu saja. Kolaborasi bentuk agitasi lokal maupun semangat Pan Islam sebagai musuh yang harus
Islam dengan Jepang
merupakan usaha- diwaspadai sementara Jepang justru membuka saluran-saluran politik bagi
usaha yang dilakukan umat Islam di Indonesia .
24
oleh Jepang guna
memutus hubungan
antara birokrasi lama Tentunya sikap Jepang yang akomodatif terhadap gerakan politik Islam di
dengan Belanda. Indonesia dan sikap antusiasnya para tokoh-tokoh Islam bekerjasama dengan
Diharapkan kelompok
Islam akan menjadi elit- pihak Jepang memiliki banyak dimensi. Meskipun sulit diukur kesungguhan
elit baru yang dapat mereka dalam mendukung Jepang dan maksud Jepang itu sendiri dalam
menggantikan elit mendukung tokoh-tokoh Islam namun realitas ini tentu tidak bisa diabaikan
lama.
begitu saja. Kolaborasi Islam dengan Jepang merupakan usaha-usaha yang
298

