Page 309 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 309

Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3







           Kegiatan politik SI semakin menonjol setelah kongres-kongres SI mulai
           menggunakan kongres nasional. Usaha-usaha SI ini mununjukkan bahwa SI
           merupakan organisasi nasional yang memiliki cabang di daerah-daerah dan
           para pemimpinnya memiliki kesadaran penuh untuk membangkitkan semangat
           nasionalisme dengan menjadikan Islam sebagai dasar ajarannya. Penggunaan
           kata nasional pun bagi Tjokroaminoto dimaksudkan sebagai upaya untuk
           berjuang menuntut pemerintah sendiri atau paling tidak diberikannya hak untuk
           mengemukakan suara dalam masalah-masalah politik. Dengan nasionalisme
           inilah kemudian diharapkan sebuah kemerdekaan bagi Indonesia dapat diraih
           dengan cepat.

           Dimensi  politik dari  SI  secara  jelas  dirumuskan  dalam azas  dan  program
           kerja dalam kongres nasional kedua tahun 1917. SI menuntut pendirian
           dewan-dewan  daerah,  perluasan  hak-hak  Dewan  Rakyat  (Volksraad)  dengan
           harapan menjadikan dewan rakyat ini sebagai lembaga perwakilan yang
           benar-benar mewakili rakyat secara umum. SI juga meminta agar hak-hak
           politik  dapat  berjalan  secara  terbuka, menuntut  penghapusan  kerja  paksa
           dan adanya izin untuk bepergian. Sebenarnya terjadi perbedaan di kalangan
           SI antara mendukung untuk bergabung dengan Volksraad dan menolaknya.
           Tjokroaminoto, Abdul Moeis dan Agus Salim selaku pimpinan Central Sarekat
           Islam cenderung menerima keberadaan Volksraad sementara Semaun, ketua SI
           cabang Semarang menolaknya karena dianggapnya hanya permainan belaka
           dari pemerintah Hindia Belanda.  Pada tahun 1918 Tjokroaminoto dan Moeis
           diangkat menjadi anggota volksraad.


           Perdebatan tentang volksraad  menghangat kembali ketika terjadi  penolakan      Karena dianggap
           dewan ini terhadap mosi dari partai untuk mengurangi luas tanah yang          menjalankan lembaga
                                                                                            secara individu
           digunakan untuk penanaman tebuh sebesar 25%. Demi memperjuangkan mosi           dan tidak mewakili
           yang dianggap untuk menjamin kepentingan rakyat, beberapa pemimpin SI yang     kepentingan SI maka
           dulunya mendukung keberadaan dewan rakyat itu mulai mempersoalkannya             pada tahun 1939
           dan menunut agar Tjokroaminoto dan Moeis keluar dari Dewan tersebut.           Kartosuwiryo dipecat
                                                                                          SI. Cabang-cabang di
           Perkembangan  berikutnya  SI  mulai  mengubah  strateginya  yang  koperatif   daerah-daerah dilarang
           menjadi non koperatif terhadap pemerintah Hindia Belanda. Ini terjadi terutama   melakukan hubungan
           sejak Tjokroaminoto dipenjarakan pihak Belanda pada tahun 1921 dan tuntutan   dengan Kartosuwiryo.
                                                                                           Kartosuwiryo pun
           untuk mengembalikan pimpinan SI dalam Dewan Rakyat tidak dipenuhi.            kemudian mendirikan
           Kebijakan SI yang bersifat non koperatif ini kemudian dikenal dengan sebutan     Darul Islam yang
           konsep hijrah.  Politik hijrah ini dikembangkan lebih lanjut dalam bentuknya   memiliki basis kuat di
                                                                                              Jawa Barat.
           yang  lebih  radikal  oleh  Kartosuwiryo  dengan  mendirikan  lembaga  Suffah
           sebagai lembaga pengkaderan partai. Karena dianggap menjalankan lembaga
           secara individu dan tidak mewakili  kepentingan SI maka pada tahun 1939
           Kartosuwiryo dipecat SI. Cabang-cabang di daerah-daerah dilarang melakukan
           hubungan dengan Kartosuwiryo. Kartosuwiryo pun kemudian mendirikan Darul
           Islam yang memiliki basis kuat di Jawa Barat.








                                                                                                 293
   304   305   306   307   308   309   310   311   312   313   314