Page 307 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 307
Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3
para pedagang Cina mulai membatasi diri. Di samping itu SDI juga melindungi
para anggotanya dari tekanan kaum bangsawan yang tidak memenuhi hak-
hak rakyat biasa dan sering melakukan diskriminasi. Misalnya, rakyat biasa
tidak diperbolehkan memakai batik motif tertentu, dilarang memakai kereta di
daerah tertentu dan juga berbagai perlakuan-perlakuan lain yang merendahkan.
Karenanya, SDI menjadi benteng perjuangan bagi para pedagang pribumi untuk
mengangkat derajatnya di depan para pedagang Cina dan bangsawan.
Seiring dengan perkembangan organisasi ini yang tidak hanya memfokuskan
pada asosiasi pedagang muslim saja tetapi mulai meluaskan bidang cakupannya
terutama pada bidang politik, SDI kemudian melakukan tranformasi menjadi
Sarekat Islam. Pendiri SDI, H. Samanhoedi juga menjadi presiden pertama SI mulai
melakukan penataan organisasi antara lain dengan peningkatan kepemimpinan,
penyusunan anggaran dasar dan penataan hubungan antara organisasi pusat
dengan daerah. Anggaran dasar organisasi ini pertama dirumuskan tanggal
11 November 1911 oleh Raden Mas Tirtoadisurjo yang merupakan salah satu
tokoh SI yang memiliki pendidikan tinggi. Dalam anggaran dasar itu disebutkan
bahwa bagi kaum muslimin diwajibkan untuk turut mencapai kemajuan dengan
cara mendirikan perhimpunan yang disebut dengan Sarekat Islam. Sarekat
Islam berusaha untuk menjadikan anggota-anggota untuk bergaul seperti
saudara, mewujudkan kerukunan dan tolong menolong satu sama lainnya serta
mengangkat derajat rakyat guna mendapatkan kemakmuran, kesejahteraan
16
dan kebesaran negeri .
SI mendapatkan sambutan yang luas dari masyarakat Indonesia dan secara
cepat mengembangkan cabang-cabangnya di daerah-daerah. Peningkatan Oemar Said Tjokroaminoto
kegiatan SI ini menjadikan kekhawatiran Residen Surakarta karena banyaknya menggantikan H. Samanhoedi
kegiatan yang tidak lagi bisa diawasi sehingga organisasi sebagai ketua SI
Sumber: Perpustakaan Nasional
ini dibekukan penguasa setempat. Perkelahian dengan
golongan Cina meningkat dan pemogokan yang
dilakukan oleh pekerja-pekerja perkebunan mulai
bermunculan. SI dianggap berada di balik kerusuhan-
kerusuhan di daerah-daerah. Namun pembekuan yang
dilakukan oleh Residen Surakarta ini kemudian dicabut
dengan catatan anggaran dasar organisasinya dirubah
sehingga kedudukan organisasi hanya terbatas di daerah
Surakarta saja.
Kegiatan SI mulai mengalami kemajuan ketika
H. Samanhoedi berhasil meyakinkan Oemar
Said Tjokroaminoto untuk memimpin organisasi
dan menjadikan SI sebagai organisai yang kuat.
Tjokroaminoto adalah sosok berwibawa yang memiliki
pendidikan tinggi dibandingkan dengan H. Samanhoedi
itu sendiri. Tanpa memperhatikan peraturan dari Residen
291

