Page 482 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 482

Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3







                                    Setelah resmi diberlakukan, dua kebijakan pemerintah di atas nyatanya
                                    menjadi sorotan berbagai pihak. Hal yang menjadi pangkal sorotan adalah,
                                    meskipun  berhasil  dalam  aspek  ekonomi  dan  politik,  pemerntah—karena
                                    terlalu  menekankan  pada  pencapaian  stabilitas  politik  dan  ekonomi—secara
                                    tidak langsung melemahkan kekuatan masyarakat untuk mengontrol dan
                                    mengkritisi jalannya roda pemerintahan. Dalam kondisi inilah berbagai elemen
                                    masyarakat, baik kelompok Islam, kelompok nasionalis, maupun kelompok
                                    yang  diasosiasikan  dengan  golongan  “sosialis”—karena  keterkaitan  mereka
                                    dengan aktivis dan simpatisan bekas PSI—bersatu padu dalam sebuah gerakan
                                    yang muncul untuk merespons kebijakan pemerintah. Aswab Mahasin dengan
                                    sangat  baik  memotret  kondisi  tersebut  dalam  sebuah  tulisannya  di  Prisma,
                                    sebagai berikut:


                                          “Walhasil, ketika medan permainan tak lagi terperangkap dalam me-
                                          dan politik, maka persoalannya bukan lagi bagai mana berbagi porsi dan
                                          menagih janji. Dalam medan budaya yang lebih besar, persoalannya ada-
                                          lah terus mencipta dan memperkaya. Di sini, mungkin sekali telah banyak
                                          teman yang menanti. Sesudah pancang-pancang yang mengungkung
                                          dicabuti,  mereka  bisa  bersama-sama  merambah  jalan  menuju  ufuk
                                          Indonesia yang baru—di mana usaha mewujudkan dau lat rakyat yang
                                          hakiki  dan  melepaskan diri  dari  belenggu  kepapaan  dan ketimpangan
                                          sosial sudah menunggu terlalu lama. Jalan ke ufuk itu sudah pasti curam
                                          dan berliku-liku, barangkali malahan memerlukan beberapa angkatan lagi
                                          untuk sam apai ke ujung. Tetapi suatu angkatan tidak dilahirkan untuk
                                          me nyudahi. Seperti bait-bait azan dari menara, mereka justru datang
                                          untuk memulai.”  10




              Satu kelompok yang    Satu kelompok yang perlu dicatat dalam peta gerakan merespon kebijakan
              Satu kelompok yang
              perlu dicatat dalam
              perlu dicatat dalam
            peta gerakan merespon   pemerintah saat itu adalah mereka yang mengambil jalur kultural-intelektual
            peta gerakan merespon   sebagai basis gerakan. Beberapa kalangan menyebut mereka sebagai “kelas
             kebijakan pemerintah
             kebijakan pemerintah
             saat itu adalah mereka   menengah santri”. Di Indonesia, label “kelas menengah santri” disematkan
             saat itu adalah mereka
             yang mengambil jalur
             yang mengambil jalur   pada sekelompok Muslim yang berorientasi kepada doktrin dan kebudayaan
              kultural-intelektual
              kultural-intelektual
             sebagai basis gerakan.   Islam. Kelas menengah santri yang tumbuh di masa Orde Baru adalah bagian
             sebagai basis gerakan.   dari kelas menengah baru, termasuk di dalamnya para pegawai negeri, kaum
              Beberapa kalangan
              Beberapa kalangan
               menyebut mereka
               menyebut mereka      intelektual, mahasiswa, ahli hukum, kelompok profesional, pegawai bergaji dari
                sebagai “kelas
                sebagai “kelas
             menengah santri”. Di   lembaga swasta, dan lain-lain. 11
             menengah santri”. Di
             Indonesia, label “kelas
             Indonesia, label “kelas
               menengah santri”
               menengah santri”     Aswab Mahasin menggolongkan kelas menengah santri ke dalam tiga lapisan:
               disematkan pada
               disematkan pada
              sekelompok Muslim     1) Lapisan atas, terdiri dari pegawai birokrasi negara, staf kementrian, anggota
              sekelompok Muslim     DPR, direktur-jenderal, para direktur, kepala-kepala biro dan sub-direktorat, dan
               yang berorientasi
               yang berorientasi
              kepada doktrin dan
              kepada doktrin dan    mereka yang menduduki posisi-posisi penting di dalam berbagai departemen
              kebudayaan Islam.
              kebudayaan Islam.     dan BUMN; 2) Lapisan yang diisi oleh kaum profesional seperti para eksekutif,
                    466
   477   478   479   480   481   482   483   484   485   486   487