Page 483 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 483

Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3







           manajer, ahli teknik, dan juga konsultan, akuntan, pengacara, kaum intelektual
           dan masyarakat pers secara umum, kaum profesional bebas seperti pengacara
           dan dokter, fungsionaris LSM, dan juga pegawai negeri sipil yang menjabat
           eselon  tiga  dan  empat  dalam  birokrasi;  dan  3)  Lapisan  menengah-bawah,
           seperti pegawai negeri rendahan, usahawan kecil, buruh pabrik, dan mereka
           yang bekerja di bidang angkutan dan jasa-jasa urban lainnya.  12
                                                                                          Sebagai satu ide dan
                                                                                          kebijaksanaan politik,
           Demikianlah, respons yang ditunjukkan oleh kelas menengah santri terhadap     modernisasi tidak serta
           kebijakan politik Orde Baru di masa awal meliputi dua aspek: respons-respons    merta diterima oleh
           dalam bentuk pemikiran dalam berbagai varian kecenderungan dan ideologi,       umat Islam, terutama
                                                                                         kelas menengah santri.
           dan respons-respons yang termanifestaskan dalam sikap politik. Untuk yang     Kekhawatiran terhadap
           pertama, respons pemikiran kelas menengah santri terhadap Orde Baru dapat     modernisasi ini muncul
           dilacak, misalnya, pada perdebatan seputar isu modernisasi yang mengemuka      dari anggapan bahwa
           di awal tahun 1970-an, di masa awal pemerintahan Orde Baru. Sebagai satu      modernisasi senantiasa
                                                                                           diiringi oleh proses
           ide dan kebijaksanaan politik, modernisasi tidak serta merta diterima oleh umat   “westernisasi”. Oleh
           Islam,  terutama  kelas  menengah  santri.  Kekhawatiran  terhadap  modernisasi   karena itu, muncul
                                                                                            kecurigaan dan
           ini muncul dari anggapan bahwa modernisasi senantiasa diiringi oleh proses     pertanyaan tentang
           “westernisasi”. Oleh karena itu, muncul kecurigaan dan pertanyaan tentang        hubungan antara
           hubungan antara modernisasi dan agama Islam serta implikasinya terhadap       modernisasi dan agama
           kehidupan politik umat Islam.                                                 Islam serta implikasinya
                                                                                          terhadap kehidupan
                                                                                           politik umat Islam.
           Beragam gagasan tentang respons kelas menengah santri terhadap isu
           modernisasi yang dianggap paling representatif, meliputi periode 1966-1970,
           dikaji oleh Muhammad Kamal Hassan dalam bukunya  Muslim Intellectual:
           Responses to New Order Modernization in Indonesia.  Di antara intelektual
                                                               13
           Muslim-santri yang gagasannya mengenai modernisasi dianalisis oleh Hassan
           adalah: Deliar Noer yang menegaskan bahwa modernisasi kompatibel dengan
           ajaran sosial Islam; sementara Omar Hashem melihat modernisasi secara lebih
           kritis dan menuntut pengujian dalam batasan-batasan moral; Amien Rais
           melihatnya dengan lebih curiga lagi seraya mengingatkan bahwa bangsa
           Indonesia harus berhati-hati terhadap eksploitasi modernisasi yang akan
           memperlemah pentingnya agama dalam masyarakat Indonesia; kecurigaan
           yang diutarakan pula oleh H.M. Rasjidi yang memandang modernisasi, toleransi
           agama,  hak  asasi  manusia,  cenderung  hanya  menjadi  alat  untuk  memenuhi
           ambisi politik-keagamaan; Hamka memandang modernisasi dengan lebih
           ekstrem: sebagai salah satu bagian dari strategi baru eks-kolonialis. 14


           Untuk upaya yang komprehensif dalam menguji segala sisi modernisasi, menurut
           Hassan, pertama kali dilakukan oleh Nurcholish Madjid dan kemudian oleh Sidi
           Gazalba. Keduanya melihat modernisasi secara semantik, kultural, dan religio-
           politik, dari pada aspek-aspek praktis modernisasi. Menurut Madjid, modernisasi
           Indonesia adalah rasionalisasi yang didukung oleh dimensi-dimensi moral yang
           lahir dari basis dasar keimanan terhadap Tuhan Yang Maha Esa (sila pertama
           dalam  Pancasila).  Sementara  Gazalba  mendefinisikan  modernisasi  sebagai
           sebuah proses pembaruan dan perubahan yang mengarah kepada sesuatu





                                                                                                 467
   478   479   480   481   482   483   484   485   486   487   488