Page 524 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 524
Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3
77 Nama “Rahima” sendiri diambil karena terinspirasi oleh 2 hal. Yaitu berasal kata dari
“rahim” perempuan, sebuah tempat dimana sebuah entitas kehidupan dimulai, dan
diambil salah satu nama Tuhan yang indah (al asma-ul husna) yakni “ar rahman dan
ar rahiim”. Yang berarti Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Dengan demikian
“rahima” dimaknai sebagai upaya untuk merayakan kehidupan dengan semangat welas
asih. Tentang profil lengkap Rahima, lihat website resmi Rahima, dalam http://www.
rahima.or.id/index.php?option=com_content&view=article&id=22&Itemid=343
78 http://www.rahima.or.id/index.php?option=com_content&view=article&id=22&Item
id=343
79 lihat website resmi Puanamalhayati, http://puanamalhayati.or.id/
80 Kajian menarik terkait perkembangan gerakan filantropi di Indonesia telah dilakukan oleh
beberapa akademisi asal Indonesia. Beberapa di antaranya dilakukan oleh sarjana Islam
asal UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Lihat misalnya, Amelia Fauzia, Faith and the State A
History of Islamic Philanthropy in Indonesia (Leiden ; Boston, [Mass.] : Brill, 2013)
81 Lihat, Andi Agung Prihatna, “Filantropi dan Keadilan Sosial di Indonesia,” dalam, Chaider
S. Bamualim & Irfan Abubakar, Revitalisasi Filantropi Islam: Studi Kasus Lembaga Zakat dan
Wakaf di Indonesia, (Jakarta: Pusat Bahasa dan Budaya UIN Jakarta & Ford Foundation,
2005), hal. 13-21.
82 Dikutip dari http://pusat.baznas.go.id/foz/ (Diakses pada 1 Maret 2014)
83 Dikutip dari http://www.dompetdhuafa.org/profil/sejarah/(Diakses pada 1 Maret 2014)
84 Dikutip dari http://www.dompetdhuafa.org/profil/visi-misi/(Diakses pada 1 Maret 2014)
85 Chaider S. Bamualim & Tuti A. Najib, “PKPU: Fenomena Educated Urban Muslim dan
Revitalisasi Filantropi,” dalam, Bamualim & Irfan Abubakar, Revitalisasi Filantropi Islam,
hal. 176-77.
86 Dikutip dari http://www.pkpu.or.id/about-us/history/(Diakses pada 1 Maret 2014)
87 Dikutip dari http://www.pkpu.or.id/about-us/history/(Diakses pada 1 Maret 2014)
88 http://bsmi.or.id/index.php?option=com_content&view=article&id=4&Itemid=9&lang=en
89 http://bsmi.or.id/index.php?option=com_content&view=article&id=5&Itemid=10&lang=
en
90 Dikutip dari http://lazismu.org/index.php/profil/ (Diakses pada 1 Maret 2014)
91 “Lazis-NU Targetkan Rp. 30 Miliar”, Republika online.
92 M. Dawam Rahadjo, “LP3ES Butuh Figur Intelektual” dalam, LP3ES: Kenangan 35
Tahun,….hal. 134.
93 Wawancara dengan Prof. Dr. Dawam Rahardjo, Cendekiawan Muslim, Dewan Pengurus
LP3ES, di Jakarta, 04 April 2014.
94 Zoemrotin Kasru Susilo, ”LP3ES Kurang Melihat Perkembangan Masyarakat” dalam,
LP3ES: Kenangan 35 Tahun,….hal. 152.
95 Wawancara dengan Dr. Bisri Effendy, Peneliti Senior LIPI, Mantan Pengurus Lakpesdam NU,
di Jakarta, 13 Maret 2014.
96 Wawancara dengan Prof. Dr. Dawam Rahardjo, Cendekiawan Muslim, Dewan Pengurus
LP3ES, di Jakarta, 04 April 2014.
97 Wawancara dengan Dr. Bisri Effendy, Peneliti Senior LIPI, Mantan Pengurus Lakpesdam NU,
di Jakarta, 13 Maret 2014.
98 Martin van Bruinessen, ‘Kata Pengantar’, dalam Hilman Latief, Melayani umat: filantropi
Islam dan ideologi kesejahteraan kaum modernis (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama,
2010), hal.xiii.
99 Di Indonesia, FNS memulai kegiatannya pada tahun 1969 dan dengan memulai kerjasama
resminya dengan Pemerintah Indonesia sejak 26 April 1971. Dalam kurun waktu lebih dari
40 tahun, FNS telah membantu pengembangan sosial ekonomi rakyat Indonesia melalui
serangkaian program, mulai dari riset ekonomi dan kebijakan ekonomi yang berkelanjutan,
hingga pemberdayaan ekonomi pesantren serta penguatan partisipasi masyarakat dalam
pembuatan kebijakan publik. Terutama sejak 1998, FNS Indonesia telah menjalankan
berbagai kegiatan untuk mendukung proses demokratisasi dan pembangunan sosial-
508

