Page 104 - PROSIDING KONFERENSI NASIONAL SEJARAH X Budaya Bahari Dan Dinamika Kehidupan Bangsa Dalam Persepektif Sejarah Jakarta, 7 – 10 November 2016 Jilid VII
P. 104

MODEL LACAK JEJAK BERBASIS NARASI IMAJINATIF:
                                  UPAYA MEMBANGUN HIGHER ORDER THINKING SKILLS
                                             DALAM PEMBELAJARAN SEJARAH

                                               IDRUS. A. RORE, S.Pd., S.H.,M.Pd
                                          (Widyaiswara LPMP Sulawesi Tengah – Palu)



                                  Pada saat KBK  (2004 – 2006) dan KTSP (2006 – 2013) diterapkan, posisi
                           mata  pelajaran  sejarah  sangat  lemah.  Terjadi  pengurangan  jam  bahkan  pada
                           semester  tertentu  menghilangkan  mata  pelajaran  sejarah  pada  kelas  IPA.
                           Implementasi Kurikulum 2013 menempatkan sejarah sebagai mata pelajaran yang
                           kuat. Dalam struktur Kurikulum 2013 dikenal istilah Mata Pelajaran Sejarah dan
                           Mata Pelajaran Sejarah Indonesia. Mata Pelajaran Sejarah diberikan kepada siswa
                           yang  memilih  peminatan  Ilmu-ilmu  sosial  (IIS)  atau  siswa  pada  peminatan
                           Matematika dan Ilmu Alam (MIA) dan Peminatan Bahasa yang mengambil mata
                           pelajaran  lintas  minat  mata  pelajaran  sejarah.  Sementara  itu,  Mata  Pelajaran
                           Sejarah Indonesia diberikan kepada semua siswa mulai dari kelas X – XII tanpa
                           memandang peminatan yang dipilih.
                                  Bagi siswa yang memilih peminatan IIS, setiap pekan memperoleh materi
                           sejarah minimal 5 JP (3 JP mata pelajaran sejarah dan 2 JP mata pelajaran sejarah
                           Indonesia).  Di  sisi  lain,  realitas  pembelajaran  sejarah  selama  ini  masih
                           terbelenggu  situasi,  “membosankan,  tidak  menarik,  kurang  diminati,  dan  yang
                           paling fatal dianggap pelajaran hafalan tidak membutuhkan pemikiran dan analisis
                           mendalam.”  Karena  itu,  menuntut  guru  sejarah  kreatif  dan  dinamis  mengelola
                           pembelajaran  dengan  cara  menerapkan  berbagai  model  pembelajaran.  Dalam
                           konteks  Kurikulum  2013,    semua  guru  menggunakan  “pendekatan  saintifik  dan
                           salah satu di antara tiga model pembelajaran yang direkemondasikan Kemdikbud
                           (Permendikbud  103/2014),  yakni  problem based  learning  (PBL), project  based
                           learning (PJBL), dan discovery/inquiry.”
                                  Pendekatan  dan  tiga  model  tersebut  digunakan  mulai  dari  kelas  1  SD
                           sampai  kelas  XII  SMA.  Jadi,  kelak  selama  12  tahun  siswa  mendapat  materi
                           pelajaran dengan pendekatan dan model pembelajaran  yang sama dan dilakukan
                           semua  guru,  maka  dapat  ditebak  akan  muncul  kejenuhan  karena  betapapun
                           baiknya  sebuah  pendekatan  dan  model  pembelajaran,  tetap  membosankan  jika
                           dilakukan  monoton.  Karena  itu,  perlu  dikembangkan  model  pembelajaran  lain
                           untuk  memperkuat Kurikulum  2013  sekaligus  menjadikan  sejarah  sebagai mata
                           pelajaran  berorientasi  pada  Higher  Order  Thinking  Skill  (HOTS)  karena
                           kelemahan pembelajaran sejarah selama ini belum mengembangkan keterampilan
                           berpikir tingkat tinggi.
                                  Salah  satu  model  pembelajaran  dimaksud  adalah  model  Lacak  Jejak
                           Berbasis Narasi  Imajinatif (LJBNI). Model LJBNI yang telah diujicobakan dalam
                           bentuk  action  research  memiliki  karakteristik;  1)  relevan  dengan  pendekatan
                           saintifik;  2)  berciri  kooperatif;  3)  berciri  konstruktivistik;  dan  4)  yang  paling
                           fundamental  berorientasi  menumbuhkan  HOTS.  Membangun  HOTS  sangat




                                                                1
   99   100   101   102   103   104   105   106   107   108   109