Page 109 - PROSIDING KONFERENSI NASIONAL SEJARAH X Budaya Bahari Dan Dinamika Kehidupan Bangsa Dalam Persepektif Sejarah Jakarta, 7 – 10 November 2016 Jilid VII
P. 109

menjadikan  siswa  mengenal  diri,  leluhur,  riwayat  perjuangan  bangsa  sehingga
                           membentuk  sikap  cintai  tanah  air  sebagai  suatu  nilai  yang  sangat  vital  untuk
                           memperkokoh eksistensi bangsa dan negara.

                                  Nilai  fundamental  ini,  semakin  berpotensi  dicapai  seiring  perlakuan
                           negatif    terhadap  mata  pelajaran  sejarah  dalam  struktur  KBK  dan  KTSP  mulai

                           tereduksi  dan  tidak  berlanjut  pada  Kurikulum  2013  yang  telah  memposisikan
                           sejarah sebagai mata pelajaran yang sangat strategis dalam konstalasi Kurikulum

                           Nasional. Semua siswa wajib mengikuti mata pelajaran Sejarah Indonesia (2 JP
                           atau 2 X 45 menit) tanpa memandang peminatan yang dipilih. Sementara itu, jika

                           siswa memilih peminatan  Ilmu-Ilmu Sosial (IIS) maka diberikan mata pelajaran
                           sejarah  (3  JP)  atau  siswa  pada  peminatan  Matematika/Ilmu  Alam  (MIA)  dan
                           Peminatan  Bahasa  yang  memilih  lintas  minat  mata  pelajaran  sejarah  juga

                           mendapat  3  JP.  Dalam  struktur  kurikulum  2013,  sejarah  dibagi  menjadi  mata
                           pelajaran sejarah Indonesia dan mata pelajaran sejarah sehingga siswa berpotensi

                           mendapat materi pelajaran berbasis sejarah sebanyak  5 JP perpekan (peminatan
                           Ilmu-ilmu  Sosial).  Akan  tetapi,  dibalik  harapan  dan  keistimewaan  ini,  problem
                           besar juga menghantui guru sejarah karena selama ini dengan alokasi waktu hanya

                           2  JP,  ternyata  mata  pelajaran  sejarah  telah  gagal  menarik  minat  dan  perhatian
                           siswa.

                                  Pembelajaran  sejarah  sampai  saat  ini  masih  kurang  menggembirakan.
                           Mata pelajaran sejarah tampaknya sedang sakit, koma,  kurang vitamin dan lemas.

                           Kondisi  ini  bukan  kasuistik  spasial  dan  temporal  tertentu  melainkan  bersifat
                           universal. Mata pelajaran sejarah belum dapat perhatian serius sehingga dianggap

                           pelajaran  yang  membosankan.  Widja  (1991:1)  menyatakan  bahwa  “praktek-
                           praktek pengajaran sejarah di sekolah, sering memunculkan kesan tidak menarik
                           bahkan cenderung membosankan.” Ismaun (2001:99), mengungkapkan “keluhan

                           para siswa yang kadang-kadang kita dengar pada umumnya adalah mereka merasa
                           jenuh  atau  bosan  dalam  menerima  pelajaran  dan  mempelajari  materi  pelajaran

                           sejarah.” Substansi yang sama dikemukakan Anhar Gonggong  (Suara Merdeka,
                           23 Juni 2005) bahwa “sejarah dipandang sebagian orang sebagai dongeng masa

                           lampau, lalu dianggap mata pelajaran yang membuang-buang waktu.”



                                                                6
   104   105   106   107   108   109   110   111   112   113   114