Page 112 - PROSIDING KONFERENSI NASIONAL SEJARAH X Budaya Bahari Dan Dinamika Kehidupan Bangsa Dalam Persepektif Sejarah Jakarta, 7 – 10 November 2016 Jilid VII
P. 112
berkembang akhir-akhir ini dapat digunakan sebagai jawaban atau solusi untuk
mengatasi kurangnya minat belajar siswa pada mata pelajaran sejarah.”
Kelemahan kedua dalam proses pembelajaran sejarah adalah terlalu fokus
pada domain kognitif. Suhartini (2001:6) mensinyalir kekeliruan metode
pembelajaran sejarah yang dikembangkan oleh guru disebabkan antara lain
”padatnya materi pelajaran sehingga memungkinkan untuk mengambil jalan
pintas, berarti mengabaikan aspek afektif dan psikomotorik.” Kelemahan ini
memang bukan semata-mata disebabkan guru sejarah karena orientasi
pembelajaran sebelum Kurikulum 2013 terlalu kognitif sentris. Kelemahan ini
sebagian disebabkan sistem kurikulum sehingga semua guru relatif terjebak pada
domain kognitif. Sejalan dengan pemberlakuan Kurikulum 2013 yang antara lain
menekankan pada penilaian autentik tiga ranah (kognitif, afektif, dan psikomotor),
maka ke depan kelamahan tersebut diharapkan dapat teratasi dengan baik. Akan
tetapi, yang perlu disikapi lebih serius adalah justru kelemahan ketiga dalam
pembelajaran sejarah yang berpangkal pada kelemahan kedua, yakni dimensi
kognitif yang disentuh terlalu dangkal. Deliman (2005:114) menyatakan ”materi
pelajaran di kelas tidak lebih dari kisah tentang rekonstruksi peristiwa dan
aktivitas manusia di masa lampau yang bagi siswa sifatnya abstrak, nonempirical,
dan nonobservable.”Akibatnya pembelajaran sejarah terbatas pada pengembangan
ingatan, yang dalam hirarki kognisi Bloom maupun Anderson dan Krathwohl
menempati urutan paling rendah. Dengan demikian, secara substansi kelemahan
proses pembelajaran sejarah selama ini terlalu monoton dan belum
mengedepankan kemampuan berpikir tingkat tinggi.
BERTANYA MENUJU HOTS
Pembelajaran sejarah perlu didesain dalam kerangka menuntun siswa
menggunakan pikiran secara maksimal. Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi atau
Higher Order Thinking Skills (HOTS) merupakan solusi untuk meningkatkan
minat belajar sejarah karena minat belajar siswa hanya dapat ditumbuhkan jika
materi yang disajikan menantang pemikiran. Erat kaitannya dengan HOTS,
realitas menunjukkan bahwa guru- guru sejarah kurang memberikan perhatian
9

