Page 117 - PROSIDING KONFERENSI NASIONAL SEJARAH X Budaya Bahari Dan Dinamika Kehidupan Bangsa Dalam Persepektif Sejarah Jakarta, 7 – 10 November 2016 Jilid VII
P. 117

senantiasa  menggunakan  imajinasi.”  Karena  manusia  senantiasa  menggunakan
                           imajinasi  maka  tepat  untuk  membiasakan  siswa  belajar  sejarah  dengan
                           menggunakan imajinasi sehingga Kumalasari (2005: 12) sampai pada kesimpulan

                           bahwa  “pengajar  sejarah  yang  baik  adalah  yang  mampu  merangsang  dan
                           mengembangkan daya imajinasi peserta didik.” Tentu tidak mudah menumbuhkan

                           imajinasi  siswa  dalam  menelaah  suatu  peristiwa  sejarah,    akan  tetapi  hal  ini
                           penting karena seperti ditegaskan Collingwood (1985: 78) dalam menelaah suatu

                           peristiwa sejarah, maka perlunya berpikir seperti aktor sejarah untuk memahami
                           secara mendalam di balik peristiwa sejarah.

                                 Pembelajaran sejarah perlu mengajak siswa berpikir imajinatif. Gagasan ini
                           diakui  Abdullah  (Lubis-editor,  2001:  115)  yang  menyatakan  “dalam  usaha
                           merekonstruksi peristiwa sejarah itu, sejarawan haruslah membayangkan seakan-

                           akan  dirinya  adalah  aktor  sejarah  yang  dikisahkannya  itu.”  Wadah  untuk
                           menuntun  siswa  berpikir  sebagai  aktor  sejarah  adalah  melalui  narasi  imajinatif

                           yang dikembangkan  secara efektif. Narasi imajinatif  yang dikembangkan dalam
                           pembelajaran sejarah akan memberikan ruang bagi siswa untuk melakukan tanya
                           jawab intensif dan mengembangkan cakrawala berpikir secara mendalam.

                                 Supriatna  (2005:  113)  menyatakan  “kegiatan  tanya  jawab  dalam  proses
                           pembelajaran sejarah dapat dipilih oleh guru sejarah dalam proses pembelajaran

                           sejarah.”  Berdasarkan uraian di atas dapat ditegaskan bahwa model LJBNI adalah
                           sebuah model yang didesain menggunakan narasi imajinatif yang memungkinkan

                           siswa  melacak  peristiwa  sejarah  yang  sedang  dipelajari  mengikuti  tahapan
                           pengamatan,     menanya,     mengumpulkan      informasi,   menalar,    dan

                           mengkomunikasikan  (saintifik)  sehingga  pembelajaran  sejarah  tidak  hanya
                           berorientasi  pada  hasil  belajar  melainkan  memungkinkan  siswa  lebih  aktif  dan
                           berpikir tingkat tinggi. Selain itu, dimensi afektif dan psikomotorik juga tersentuh

                           sehingga bukan semata-mata aspek  koginitif  yang dikembangkan.  Contoh LKS
                           LJBNI  yang  telah  dikembangkan  dalam  pembelajaran  sejarah  dapat  dilihat

                           sebagai berikut.






                                                                14
   112   113   114   115   116   117   118   119   120   121   122