Page 113 - PROSIDING KONFERENSI NASIONAL SEJARAH X Budaya Bahari Dan Dinamika Kehidupan Bangsa Dalam Persepektif Sejarah Jakarta, 7 – 10 November 2016 Jilid VII
P. 113
yang serius terhadap kemahiran berfikir yang kreatif dan kritis dalam
pembelajaran sejarah. Berpikir kreatif dan kritis sama dengan HOTS. Jika selama
ini HOTS belum mendapat perhatian guru, maka sulit mengharapkan
pembelajaran sejarah mendapat respon positif. Karena “ berpikir tingkat tinggi
dapat mendorong peserta didik untuk berpikir secara luas dan mendalam tentang
materi pelajaran.” (Kemdikbud, 2016: 4). Kerja otak sebagai instrumen belajar
lebih reaktif dan kreatif jika diperhadapkan pada pembelajaran yang berisi HOTS.
Ada dua realitas yang menjadi indikator pembelajaran sejarah belum
berorientasi HOTS, yakni 1) instrumen evaluasi yang digunakan guru sejarah
khususnya tes hasil belajar; dan 2) pertanyaan-pertanyaan yang diajukan guru
pada saat proses pembelajaran. Indikator pertama jelas terlihat dari soal-soal yang
diberikan kepada siswa yang berada pada cakupan Low Order Thinking Skills
(LOTS) yang berkisar pada pengungkapan ingatan. Pemantauan Supervisi dan
Pembinaan Pasca Evaluasi Hasil Belajar (EHB) SMA yang telah dilaksanakan
oleh Direktorat Pembinaan SMA, sebagian besar guru SMA sasaran (termasuk
guru sejarah) dalam menyusun butir soal cenderung hanya mengukur kemampuan
LOTS dan soal-soal yang dibuat tidak kontekstual. Soal-soal yang disusun oleh
guru umumnya mengukur keterampilan recall. Selain itu, jika dilihat dari
konteksnya sebagian besar menggunakan konteks di dalam kelas dan sangat
teoretis, serta jarang menggunakan konteks di luar kelas (kontekstual). Sehingga
tidak memperlihatkan keterkaitan antara pengetahuan yang diperoleh dalam
pembelajaran dengan situasi nyata dalam kehidupan sehari-hari (Kemdikbud,
2016: 4). Secara praktis, hasil analisis tersebut menunjukkan bahwa pembelajaran
sejarah belum mengakomodir HOTS dengan indikator berada pada tingkat
“analisis, sintesis, dan evaluasi” (Bloom,1979: 18) atau dalam perspektif revisi
yang dilakukan Anderson dan Krathwohl (2001: 34) berada pada ranah kognitif
“analisis,evaluasi, dan mencipta.”
Realitas paling nyata pembelajaran sejarah terindikasi LOTS adalah jika
dilakukan pengamatan pada saat guru melaksanakan pembelajaran ternyata
pertanyaan-pertanyaan yang diajukan guru sejarah selama proses pembelajaran,
berada ada domain ingatan atau paling tinggi pada tataran MOTS yakni
10

