Page 108 - PROSIDING KONFERENSI NASIONAL SEJARAH X Budaya Bahari Dan Dinamika Kehidupan Bangsa Dalam Persepektif Sejarah Jakarta, 7 – 10 November 2016 Jilid VII
P. 108

sebagai mata pelajaran berbasis fakta masa lampau yang berpijak pada masa kini
                           dan  berorientasi  masa  depan,  justru  nilai  pragmatisnya  bersifat  indirect  dan
                           immaterial,  antara  lain;  membentuk  kepribadian  dan  memperkokoh  karakter

                           bangsa  atau  seperti  dikemukakan  (Ali  2005:  349)  “membentuk  jiwa  manusia.”
                           Sementara  itu,  Rochmat  (2009:  14)  menegaskan  bahwa  “sejarah  itu  harus

                           fungsional untuk mempertajam wawasan kemanusiaan seseorang dalam berurusan
                           dengan jaman yang tidak pernah berhenti bergerak.”

                                  Pada tataran implementasi di  kelas, Ahmad (2007: 59) menyatakan  guru
                           sejarah  harus  menjalankan  peranan  dalam  menerapkan  “nilai  kewarganegaraan

                           serta  unsur  patriotisme.”  Mata  pelajaran  sejarah  sebagai  agen  pembentuk  jiwa
                           manusia,    pencerah   wawasan     kemanusiaan,   dan    membangun     nilai
                           kewarganegaraan    berjiwa  patriotis  adalah  anasir-anasir  penting  yang  tidak

                           mungkin  diabaikan  dalam  kehidupan  berbangsa  dan  bernegara.  Karena  itu,
                           Kartodirdjo (1992: 248) tegas menyatakan “dalam rangka pembangunan bangsa,

                           pengajaran  sejarah  tidak  semata-mata  berfungsi  memberi  pengetahuan  sejarah
                           sebagai  kumpulan  informasi  fakta  sejarah,  tetapi  juga  bertujuan  menyadarkan
                           anak didik atau membangkitkan kesadaran kesejarahannya.” Justru orientasi pada

                           pembentukan  kesadaran  sejarah  inilah  yang  seharusnya  menjadi  fokus
                           pembelajaran sejarah.

                                  Mewujudkan  kesadaran  sejarah  siswa,  mensyaratkan  mata  pelajaran
                           sejarah  tidak  boleh  hanya  dipahami  sebagai  sarana  transfer  of  knowledge

                           melainkan  sekaligus  media  penyadaran  jiwa.  Mata  pelajaran  sejarah  mesti
                           berfungsi membentuk kesadaran sejarah. Karena dengan kesadaran sejarah, maka

                           karakter  siswa  semakin  menguat.  Yulifar  (2008:  206)  menegaskan  pendidikan
                           “sejarah merupakan suatu proses enkulturasi dalam rangka nation and character
                           building  melalui  proses  pelembagaan  nilai-nilai  yang  positif  seperti:  nilai-nilai

                           warisan  luhur,  heroisme  dan  nasionalisme,  nilai-nilai  masyarakat  industri,  serta
                           nilai-nilai  ideologi  bangsa.”  Sementara  itu,  Zuhdi    (2008:  290)  lebih  lanjut

                           menyatakan  bahwa  fungsi  sejarah  sebagai materi  yang substantif  untuk  “nation
                           and  character  building.”  Paling  tidak  melalui  mata  pelajaran  sejarah,  siswa

                           terbebas  dari  buta  masa  silam.  Mata  pelajaran  sejarah  sesungguhnya  mampu



                                                                5
   103   104   105   106   107   108   109   110   111   112   113