Page 110 - PROSIDING KONFERENSI NASIONAL SEJARAH X Budaya Bahari Dan Dinamika Kehidupan Bangsa Dalam Persepektif Sejarah Jakarta, 7 – 10 November 2016 Jilid VII
P. 110
Lalu, bagaimana jika siswa mendapat suguhan mata pelajaran sejarah
sebanyak 5 JP,? Dapat diprediksi pembelajaran sejarah akan semakin terjebak dan
terbelunggu dalam kebosanan, pikiran dan jiwa siswa semakin tersekat. Jika
kondisi ini dibiarkan terus, maka pembelajaran sejarah akan semakin tidak
menarik di kalangan siswa. Memang, guru sejarah dituntut menerapkan
pendekatan saintifik yang potensial membuat pembelajaran lebih menarik karena
berorientasi active learning, akan tetapi pendekatan ini bukan milik khas guru
sejarah. Semua guru dari SD/MI, SMP/MTs, sampai SMA/MA/SMK dituntut
mampu memahami dan melaksanakan pendekatan saintifik sehingga tetap
berpeluang menjadikan pembelajaran sejarah berada dalam ritme monoton.
Terlebih lagi jika guru sejarah hanya menguasai tiga model pembelajaran yang
mendukung pendekatan saintifik, yakni problem based learning,
discovery/inquiry, project based learning sebagaimana direkomendasikan
Kemdikbud. Karena itu, guru sejarah perlu lebih kreatif mengelola pembelajaran
sejarah. Demikian pula, para akademisi dan ahli pendidikan sejarah juga
hendaknya lebih kontributif memberikan perhatian intensif dalam mendesain
metode, media, strategi, dan model pembelajaran yang efektif untuk
meningkatkan daya tarik mata pelajaran sejarah.
MENEMUKAN TITIK LEMAH
Menjadi guru sejarah yang baik harus mengetahui dan menguasai dua hal,
yakni: 1) Tahu apa yang diajarkan dan 2) Tahu cara membelajarkan. Tahu apa
yang diajarkan berorientasi pada penguasaan substansi keilmuan (mata pelajaran
sejarah) atau berkaitan dengan kompetensi profesional guru sejarah sedangkan
tahu cara membelajarkan atau mengajarkan sejarah berarti berada pada domain
kompetensi pedagogik dengan segala implikasinya. Jika kedua ”tahu” ini dikuasai
guru sejarah, maka dapat membuat pembelajaran lebih efektif sehingga siswa
tertarik dan berminat mempelajari sejarah. Hal ini sejalan dengan pandangan
Ismaun (2005: 163) yang menyatakan “apabila kita beranggapan bahwa
pendidikan sejarah memang masih diperlukan dalam kehidupan yang serba
berubah pada masa depan maka yang harus kita jawab adalah: Sejarah apa yang
7

